Jangan salahkan miras. Tindak kriminal terjadi lebih karena kehidupan yang keras.
Padahal andai mau melihat dengan nurani, kebanyakan pelaku kriminal mengaku lebih berani setelah dicekoki barang ini.

Jangan tuding rok mini penyebab pelecehan. Orang yg pada dasarnya bejat tak pernah memilih-milih pakaian korban.
Padahal kenyataannya pengguna rok mini lebih berpotensi dipelototi, sementara yg menutup aurat lebih merasa aman dari gangguan.

Soal komunis jangan termakan hasutan, sebab sejarah konon telah dibelokkan.
Padahal saksi kekejaman masih banyak yg hidup hingga sekarang, belum begitu pikun untuk sekadar kesaksian.

Soal gerakan kiri, kami katanya jangan mengomentari hal yg tidak kami pahami.
Padahal cap wahabi bisa begitu mudah mereka sematkan, sementara belum tentu juga mereka paham atau baca sejarahnya hingga khatam.

Jangan bawa-bawa Arab, ini bumi nusantara.
Padahal Al-qur’an kita masih sama, belum diubah ke tulisan Jawa, Bugis, ataupun sansekerta.

Jenggot itu identik teroris, celana tak isbal itu sudah tak relevan.
Padahal ketika jenggot dan joger jadi trend kekinian, mereka pun ikutan

Hukum cambuk itu sadis, maling dipotong jari itu barbar.
Padahal ketika ada begal tertangkap, maka mereka di garis depan teriak-teriak “bakar!”

Kawan, coba kita perhatikan..
Jangankan bercadar, berhijab syar’i pun masih jadi buah bibir.
Jangankan merapatkan kaki dalam saf, meluruskan kiblat pun mereka cibir.
Jangankan sunnah, perintah alqur’an saja mereka mangkir
Budaya merusak mereka welcome, tatanan agama dipikir-pikir.

Kawan, coba kita simpulkan..
Inilah dunia dengan standar mereka.
Siapa mereka? padahal masih saudara.
mereka mengusung kebebasan berpendapat,
tapi ketika kita berbeda maka mereka siap menghujat.

Kawan, coba kita renungkan..
Ketika tak jelas lagi siapa di balik topeng kebenaran, seperti memilih batman atau superman.
Bingung kubu mana di jalan keselamatan, seperti memilih antara captain amerika ataukah ironman.
Maka tak perlu panik rapatkan barisan, karena kita tak sedang tujuh belas agustusan
mulailah saja dengan “qu anfusakum wa ahlikum naran”, berikutnya insyaallah ada jalan. (Arham Rasyid)

View on Path

Jangan salahkan miras. Tindak kriminal terjadi lebih karena kehidupan yang keras.
Padahal andai mau melihat dengan nurani, kebanyakan pelaku kriminal mengaku lebih berani setelah dicekoki barang ini.

Jangan tuding rok mini penyebab pelecehan. Orang yg pada dasarnya bejat tak pernah memilih-milih pakaian korban.
Padahal kenyataannya pengguna rok mini lebih berpotensi dipelototi, sementara yg menutup aurat lebih merasa aman dari gangguan.

Soal komunis jangan termakan hasutan, sebab sejarah konon telah dibelokkan.
Padahal saksi kekejaman masih banyak yg hidup hingga sekarang, belum begitu pikun untuk sekadar kesaksian.

Soal gerakan kiri, kami katanya jangan mengomentari hal yg tidak kami pahami.
Padahal cap wahabi bisa begitu mudah mereka sematkan, sementara belum tentu juga mereka paham atau baca sejarahnya hingga khatam.

Jangan bawa-bawa Arab, ini bumi nusantara.
Padahal Al-qur’an kita masih sama, belum diubah ke tulisan Jawa, Bugis, ataupun sansekerta.

Jenggot itu identik teroris, celana tak isbal itu sudah tak relevan.
Padahal ketika jenggot dan joger jadi trend kekinian, mereka pun ikutan

Hukum cambuk itu sadis, maling dipotong jari itu barbar.
Padahal ketika ada begal tertangkap, maka mereka di garis depan teriak-teriak “bakar!”

Kawan, coba kita perhatikan..
Jangankan bercadar, berhijab syar’i pun masih jadi buah bibir.
Jangankan merapatkan kaki dalam saf, meluruskan kiblat pun mereka cibir.
Jangankan sunnah, perintah alqur’an saja mereka mangkir
Budaya merusak mereka welcome, tatanan agama dipikir-pikir.

Kawan, coba kita simpulkan..
Inilah dunia dengan standar mereka.
Siapa mereka? padahal masih saudara.
mereka mengusung kebebasan berpendapat,
tapi ketika kita berbeda maka mereka siap menghujat.

Kawan, coba kita renungkan..
Ketika tak jelas lagi siapa di balik topeng kebenaran, seperti memilih batman atau superman.
Bingung kubu mana di jalan keselamatan, seperti memilih antara captain amerika ataukah ironman.
Maka tak perlu panik rapatkan barisan, karena kita tak sedang tujuh belas agustusan
mulailah saja dengan “qu anfusakum wa ahlikum naran”, berikutnya insyaallah ada jalan. (Arham Irsyad)

View on Path