Ustad Solmed Ditahan 10 Jam oleh Imigrasi Bandara Changi Singapura

Kejadian kurang mengenakkan menimpa penceramah kondang, Ustadz Solmed pada Sabtu (3/6) di Bandara Changi Singapura. Dirinya ditahan Imigrasi bandara di ruang isolasi sehingga paspor dan handphone miliknya disita.

Kronologi kejadian itu disampaikan lewat media sosial Twitter di akun @SholehMahmoed. 

“Susah sekali ya menelpon kedutaan Indonesia di singapore. Sdh 8 jam saya di ruang tahanan imigrasi singapore tanpa tau alasannya kenapa,” tulisnya mengawali kultwit.

Pemilik nama lengkap Sholeh Mahmoed Nasution itu kemudian meminta untuk dipulangkan kembali ke Indonesia. Namun hingga jam tiket keberangkatannya ke Indonesia hangus, Solmed belum juga diizinkan pulang.

Solmed juga menuliskan bagaimana perlakuan pihak Imigrasi Singapura yang sewenang-wenang memperlakukan Warga Negara Indonesia (WNI) tanpa kejelasan sama sekali.

“Mereka Seperti tidak punya rasa sungkan pada Indonesia,mereka seenaknya memperlakukan WNI ( saya ). Lengkap 10 jam menahan tnpa alasan,” tulis dia. 

Akhirnya Ustad Solmed dapat pulang kembali ke Indonesia dengan penerbangan pukul 19.50 WIB. Hingga kini, dirinya masih bingung dengan alasan penahanannya oleh imigrasi setempat. Apalagi paspornya sempat ditahan dan tidak diizinkan pulang. (*/ls) 

Iklan

Perlu Tahu Sejarah DKI Jakarta

Saya saksi hidup yang barangkali sudah langka yang banyak tahu tentang track record para gubernur tersebut, krn selama 28 thn mengabdi di Dinas Tata Kota DKI Jakarta dn mengalami di bawah kepemimpinan 6 Gubernur, mulai dari Ali Sadikin ( 1966-1977 ), Tjokropranolo ( 1977 – 1982 ), Suprapto ( 1982 – 1987 ), Wiyogo ( 1987 – 1992 ), Suryadi Sudirdja ( 1992 – 1997 ) dan Soetiyoso ( 1997 – 2007 ).

Masa kepemimpinan Fauzi Bowo ( 2007 – 2012 ) sy  sdh pensiun, ttp tetap mengikuti kiprah beliau. Sebetulnya Ahok hanya melanjutkan “ blueprint “ pembangunan Jakarta sebagaimana yang telah diletakkan oleh para gubernur sebelumnya.
Para gubernur itulah yang telah meletakkan kerangka makro pembangunan Jakarta yang comprehensive,  termasuk  program2 jangka panjang dn menengah dan skala prioritasnya.
Mereka itulah yang menyiapkan Rencana Induk Jakarta 1965 – 1985 ( Ali Sadikin ), yang kemudian dilanjutkan dengan Rencana Umum Tata Ruang DKI Jakarta 2005 ( Suprapto ) yang pada tahun 1996 direvisi dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi DKI Jakarta 2010 ( Suryadi Soedirdja ), dan dilanjutkan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi DKI Jakarta 2030 ( Fauzi Bowo ).
Skenario pembangunan Jakarta sudah ditentukan dalam dokumen tersebut di atas, baik secara keseluruhan maupun partial. Jadi konsepsi pembangunan jalan arteri tol dan non tol, MRT, LRT, BRT ( busway ), pengendalian banjir, dan pengembangan  fasos fasum, semuanya sdh tertera dan terprogram, tinggal menjalankan saja.
Bedanya Ahok dengan para gubernur sebelumnya adalah,  Ahok bekerja secara piece meal approach ( menyelesaikan persoalan2 kecil ), antara lain membangun proyek2 yang bersifat kosmetik dan partial seperti pembenahan trotoir, pembersihan kali, pembangunan taman,  menggusur hunian kumuh yang akhirnya menimbulkan banyak   permasalahan sosial thd warga tergusur dan lain sebagainya.
Sedangkan gubernur sebelumnya selalu bekerja dalam kerangka pembangunan yang menyeluruh dan terintegrasi sesuai skala prioritasnya, menyelesaikan masalah tanpa masalah.
Para gubernur tersebut  mendahulukan terbentuknya struktur jaringan makro Jakarta, terutama dalam aspek transportasi dan pengendalian banjir.
Pembangunan Jalan Arteri Tol/Non Tol.

Sebelum Ahok menjabat sebagai gubernur, pembangunan struktur makro jaringan jalan arteri primer baik lingkar maupun radial Jakarta telah  selesai seluruhnya.
Pembangunan jalan lingkar dalam

( Grogol – Cawang – Tanjung Priok ) dan beberapa jalan arteri radial ( Cempaka Putih, Pemuda, Pramuka dll ) sudah selesai di era Gubernur Ali Sadikin.  Peningkatan jalan lingkar dalam menjadi jalan tol adalah di era Gubenur Suprapto, Suryadi, Wiyogo. Permbangunan jalan lingkar luar, ruas Cakung Cilincing, Kampung Rambutan – Vetreran,  Kampung Rambutan – Cakung , Kembangan –  Cengkareng,  Kembangan – Vetreran  sudah dimulai sejak Gubernur Suprapto, dilanjutkan oleh Wiyogo, Suryadi Sudirdja, Sutiyoso dan dirampungkan oleh Fauzi Bowo.
Peningkatannya menjadi jalan tol juga pada masa para gubernur tersebut. Belum lagi banyak jalan arteri  radial yang diselesaikan para gubernur setelah Ali Sadikin, antara lain; jalan Dr.Satrio, Casablanca, Rasuna Said, Buncit Raya, Anta Sari, Pondok Pinang, Pejompongan,  Jl. Panjang, Latumeten, Manggadua, Ngurah Rai dan banyak lagi yang lainnya. Ahok hanya menerima warisan struktur jaringan jalan makro Jakarta yang sudah terbentuk.
Adapun pembangunan 6 jalan tol baru yang sekarang ini sedang dilaksanakan, sebetulnya merupakan program Fauzi Bowo yang  siap dilaksanakan. Namun karena mendapat kritikan tajam dari berbagai para pakar transportasi kota, maka program tersebut dibatalkan dan diganti dengan pembangunan 2 jalan layang non tol, yaitu  Mas Mansyur-Dr. Satrio- Casablanca dan Antasari.
IRONISNYA KETIKA AHOK MELAKSANAKANNYA, MEDIA MASA MEMBUNGKAM PARA PENGERITIK.
Pengendalian Banjir

Begitu juga dalam sistim pengendalian banjir, apa yang dilakukan Gubernur sebelumnya adalah membangun struktur makro  pengendalian banjir yang sudah rampung seluruhnya, antara lain dengan pembangunan kanal, waduk  dan saluran primer Jakarta. Banjir Kanal Barat sudah dimulai dibangun sejak zaman Ali Sadikin, Cengkareng Drain , Cakung Drain, dilanjutkan para Gubernur lainnya dan terakhir Banjir Kanal Timur diselesaikan oleh Fauzi Bowo.
Bahkan program normalisasi kali juga sudah dilakukan pada beberapa sungai di Jakarta, seperti Kali Cideng, Morkervart, Gunung Sahari dll. Pembangunan waduk Pluit, Sunter, Ria Rio juga hasil karya para gubernur tersebut.
Pengelolaan Sampah

Sistim dan mekanisme pengelolaan sampah mulai dari pembangunan Tempat Penampungan Sementara ( TPS ) di berbagai tempat di Jakarta sampai Tempat Penampungan Akhir ( TPA ) di Bantar Gebang juga sudah selesai dibangun. Kalaupun terjadi kericuhan dalam pengelolaan sampah belakangan ini, itu hanya menyangkut masalah managementnya saja.

Fasos / Fasum.

Berbagai macam fasos/fasum juga telah dibangun  dalam jumlah yang memadai oleh para gubernur sebelumnya. Sekolah, mulai dari tingkat SD sampai SMA. Fasilitas kesehatan, mulai dari Puskesmas tingkat kelurahan, kecamatan sampai RSUD juga terbangun di setiap kelurahan, kecamatan dan wilayah kota.
Hanya RSUD Jakarta Selatan yang dibangun Ahok melanjutkan program gubernur sebelumnya.
Demikian juga pembangunan pasar modern tersebar merata di seluruh kota, spt pasar Tanah Abang, Pasar Senen, Pasar Glodok, Pasar Mayestik, Pasar Blok M, Pasar Koja, Pasar Kebayoran Lama, Pasar Santa dll.
Begitu juga pasar pasar tradisional yang jumlahnya ratusan. Pembangunan terminal dalam kota dan luar kota, spt Terminal Kampung Rambutan, Terminal Blok M,  Terminal Cengkareng, Terminal Pulo Gadung, Terminal Lebak Bulus dll sudah ada sebelum Ahok.

Pembebasan tanah terminal Pulo Gebang dilakukan masa gubernur Sutiyoso.
Pembangunan fisiknya semasa Gubernur Joko Widodo. Dalam kegiatan olahraga, pembangunan gelanggang remaja di setiap wilayah kota, lapangan sepakbola semua sudah lengkap.
Mass Rapid Transit ( MRT )

Sebetulnya gagasan pembangunan MRT sdh dicetuskan sejak Gubernur Ali Sadikin. Tetapi kajian saat itu menyimpulkan kemampuan membangun MRT belum ada. Barulah  pada era Gubernur Suryadi Soedirdja dibentuk Project Management Unit MRT untuk melakukan Feasibility Study Tentang Pembangunan MRT. Studi tersebut berhasil dirampungkan dan kemudian akan ditindak lanjuti dengan penyusunan Basic Design.
Namun penyusunan Basic Design terpaksa ditangguhkan ketika Sutiyoso menjadi Gubernur akibat  krisis ekonomi 1998. Baru saat Fauzi Bowo menjabat gubernur,studi tsb dilanjutkan dan  bahkan dibentuk PT. MRT JAKARTA utk melaksanakannya.
KETIKA JOKO WIDODO MENJADI GUBERNUR, BELIAU TINGGAL MELAKSANAKAN APA YANG SUDAH DISIAPKAN OLEH FAUZI BOWO.
Ligh Rail Transit ( LRT )

Gubernur Sutiyoso karena mempertimbangkan kondisi perekonomian  yang belum pulih, memutuskan menunda pembangunan MRT dan merintis pengembangan LRT sebagai gantinya. Pembangunan bekerjasama dengan pihak swasta sebagai investor. Tiang2 penyangga bahkan sudah dibangun, namun karena investor kesulitan modal maka proyek tersebut terhenti .

Bus Rapid Transit ( BRT )

Akhirnya Gubernur Sutiyoso memilih membangun Bus rapid transit, yang di sini dikenal dengan istilah busway,  pada beberapa koridor jalan arteri dan dilanjutkan pada beberapa koridor lainnya oleh Fauzi Bowo.
Sebetulnya busway adalah pilihan  yang tepat karena saat ini menjadi primadona di manca negara dalam memecahkan masalah transportasi. Pembangunan MRT sudah ditinggalkan kota-kota dunia karena selain biaya pembangunannya sangat mahal, teknologinya rumit, memerlukan waktu pembangunan yang lama, juga secara ekonomis tidak menguntungkan. Hampir semua operator MRT di seluruh dunia merugi dan di subsidi oleh pemerintah. Di kota Kahsiong, Taiwan, bahkan pembangunan MRT gagal karena sepi penumpang. Demikian juga di Kuala Lumpur.  

Bila MRT Jakarta nanti rampung, akan menjadi beban fiskal  buat Pemprov DKI. Subsidi tiket diperkirakan sekitar Rp 20.000 per penumpang. Dengan perkiraan ridership 1 juta orang per hari, maka subsidi tiket per hari mencapai Rp 20 Milyar, per bulan Rp 600 M, per tahun Rp 7,2 Trilyun. Belum lagi biaya operasional, maintenance dan pembayaran cicilan dan bunga hutang,  mungkin pengeluaran  pemerintah provinsi bisa mencapai angka Rp 10 Trilyun  setiap tahunnya.
Sebaliknya busway, biaya pembangunannya sangat murah, teknologinya tidak terlalu rumit, waktu pembangunan sangat cepat dan yang paling penting tidak akan menguras kas pemerintah.
Di beberapa kota di dunia, pemerintah hanya menyiapkan infrastukturnya saja, sedangkan pengadaan bis disediakan operator. Ternyata juga kapasitas busway dapat ditingkatkan setara MRT. Dengan menyediakan 2 lajur bis setiap arah dan menggunakan bis bi-articulated ( 3 rangkai gerbong ), kapasitasnya bisa mencapai 55.000 penumpang/arah/jam setara dengan kapasitas MRT Lebak Bulus – Bundaran HI yang sedang dibangun.
Beberapa kota di dunia berhasil mengatasi masalah transportasinya dengan cara ini, seperti Bogota, Sao Paulo, Guangzu dll.
IRONISNYA, JAKARTA ADALAH KOTA PERTAMA DI ASIA YANG MENGEMBANGKAN BUSWAY TETAPI BERALIH KE MRT, SEMENTARA KOTA2 LAINNYA DI ASIA MENINGGALKAN MRT DAN BERALIH KE BUSWAY.
Lain-lain. 

Masih banyak lagi hasil karya para gubernur tersebut yang spektakuler yang tetap akan dikenang sepanjang masa karena ada jejak sejarahnya, antara lain Pembangunan Taman Impian Jaya Ancol, Taman Ismail Marzuki, Taman Mini Indonesia Indah, Bonbin Ragunan, Planetarium  di era Ali Sadikin.
Refungsionalisasi Monas sebagai Taman Kota, menghapus operasi becak di Jakarta, merintis liburan hari Sabtu, mengembangkan Kemayoran sebagai Arena PRJ dan Pusat Eksebisi bertaraf internasional dll di era Wiyogo, pembangunan rumah susun murah di Kemayoran, Bendungan Hilir dan diberbagai tempat lainnya di era Suryadi, pembangunan Islamic Center dll di era Sutiyoso dan proyek2 lainnya di era Fauzi Bowo, yang kalau diuraikan akan menjadi daftar yang sangat panjang.
Singkatnya dari urusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak sampai yang menyangkut kematian ( pengadaan TPUP ) sudah disiapkan fasilitasnya di lima wilayah kota oleh para gubernur tersebut.
Ketika Gubernur Sutiyoso menutup lokalisasi pelacuran di Kramat Tunggak yang luasnya 10 kali lebih besar dari Kalijodo dan menjadikannya sebagai Islamic Center terbesar se Asia Tenggara, sepi dari pemberitaan media masa. Sementara ketika Ahok menggusur Kalijodo dengan pasukan gabungan bersenjata lengkap, diberitakan besar2an dan bahkan dianggap pahlawan.
Prestasi Ahok sebetulnya belum ada apa2nya dibanding para gubernur sebelumnya, tetapi karena dia akan dijadikan “ putra mahkota “ maka direkayasalah oleh media asing dan aseng bahwa semua pembangunan di Jakarta sebagai prestasinya Ahok.
Mengakhiri tulisan ini, saya menghimbau kepada rekan-rekan purna bhakti Pemprov DKI Jakarta, mari kita kumpulkan data2 ttg pembangunan di Jakarta di masa Gubernur Ali Sadikin sd Fauzi Bowo untuk kita jadikan sebuah buku “ Sejarah Pembangunan Kota Jakarta “, agar generasi mendatang tahu siapa saja yang banyak jasanya membangun kota Jakarta yang kita cintai ini dan agar tidak ada lagi yang gampang menyatakan “di tangan gubernur-gubernur sebelumnya mangkrak semua”
ISMAIL ZUBIR (Mantan karyawan Dinas Tata Kota Pemprov DKI )

Nyinyir, Kurangnya Ilmu? 

​Dulu, waktu saya masih muda (sekarang sih masih muda juga), saya suka nyinyir dengan Majelis Ulama Indonesia. Usia saya waktu itu berbilang mahasiswa, baru lulus. Sy nyinyir sekali setiap MUI merilis fatwa. Hingga pada suatu hari, saking nyinyirnya, ada teman yang menegur (karena dia mungkin sudah tidak tahan lihat sy nyinyir di mana2), “Bro, jangan2, kitalah yang ilmunya dangkal. Bukan MUI-nya yang lebay. Tapi kitalah yg tidak pernah belajar agama sendiri.”
Muka saya langsung merah padam, tidak terima. Ini teman ngajak bertengkar. Enak saja dia bilang ilmu sy dangkal. Tapi sebelum sy ngamuk, teman sy lebih dulu bilang dengan lembut, “Jangan marah, bro. Mending pegang kertas dan pulpen gw, nih. Mari kita daftar hal2 berikut ini. Kalau sudah didaftar, nanti boleh marah2.” Baik. Karena dia ini teman baik saya, maka saya nurut, ambil pulpen dan kertasnya.
“Pertama, kapan terakhir kali kita baca Al Qur’an lengkap dengan terjemahan dan tafsirnya?” Saya bengong. “Tulis saja, bro. Kapan?” Saya menelan ludah. Berusaha mengingat2. “Kedua, kapan terakhir kali kita baca kitab hadist, sahih bukhari, sahih muslim, dibaca satu persatu, dipelajari secara seksama?” Saya benar2 terdiam. “Ketiga, kapan terakhir kita duduk di kajian ilmu yg diisi guru2 agama? Ayo, bro ditulis saja, kapan terakhir kali?”
Saya benar2 kena skak-mat. Termangu menatap kertas di atas meja.
“Ayo bro, ditulis. Kapan? Apakah kita tiap hari, tiap minggu telah melakukannya? Apakah baru tadi pagi kita baca tafsir Al Qur’an? Baru tadi malam, baca kitab2 karangan Imam Ghazali, dsbgnya?

Saya benar2 jadi malu.
“Nah, itulah kenapa jangan2 kita suka nyinyir dengan fatwa MUI, suka nyinyir dengan ulama. Karena kita merasa sudah paling berpengetahuan, paling paham tentang agama, tapi kenyataannya, kita cuma modal pandai bicara saja, pandai bersilat lidah. Belum lagi kalau ditanya: apakah kita sudah rajin shalat 5 waktu, apakah kita sudah rajin puasa senin-kamis, shalat tahajud, jangan2 kita malah tidak pernah. Bro, kita nyinyir dengan MUI, karena kita tidak suka saja, sentimen dgn mereka, dangkal pengetahuannya. Saat kita belajar betulan ilmu agama, barulah kita nyadar, kita sebenarnya justeru sentimen dengan Al Qur’an, dengan Nabi, dengan agama sendiri. Karena yg disampaikan oleh MUI itu, semua ada di kitab suci dan hadist.”
Demikianlah kisah masa lalu itu. Tidak perlu serius bacanya, anggap saja fiksi masa lalu Tere Liye. Fahimna. Pakai F, bukan pakai P.

 – Tere Liye –

Ini  Susunan Acara Gerakan Subuh Berjamaah 1212 di Bandung

​> Susunan acara :

– Pkl 04.00 – 05.00 wib Sholat subuh berjamaah bersama KH. Abdullah Gymnastiar di Masjid Pusdai.

– Pkl 05.00 – 05.30 Wib MQ On Air : Dialog KH. Abdullah Gymnastiar dan Habib Rizieq di Pusdai 

– Pkl 05.30 – 06.00 Wib pengondisian Jama’ah menuju Gasibu, dan registrasi, penukaran fasilitas tiket pengondisian Jama’ah

– Pkl 06.00 – 06.10 Wib pembukaan jalan santai oleh kang Sigit didepan Gedung Sate Jl. Diponegoro kota Bandung

– Pkl 06.10 – 07.30 Wib Jalan santai dengan rute : Start depan Gd. Sate – Jl. Cisangkuy – Jl. Cimanuk – Jl. Cimandiri – Jl. Cimalaya – Jl. Diponegoro – Gasibu (masuk melalui pintu barat)

– Pkl 07.30 – 08.00 Wib pembukaan acara oleh Kang Sigit dan Kang Entang dilanjutkan Tilawah bersama surat Arohmah dengan Syekh Ali Jaber di Gasibu 

– Pkl 08.00 – 10.00 Wib sambutan Gubernur Jabar Bp. Ahmad Heryawan di Gasibu, dilanjutkan dengan penyampaian Hikmah bersama sahabat tunanetra, tuna daksa oleh Aa Gym

– Dilanjutkan dengan Dialog bersama :

1. Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo

2. Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian

3. Ustadz Habib Rizieq

4. Ustadz Bachtiar Nasir

5. Ustadz Ali Jaber

6. Ustadz Yusuf Mansur

– Pkl 10.00 – 11.30 Wib Doorprize dan Grandprize

– Pkl 11.30 – 12.00 Wib Doa Dan Penutupan

– Pkl 12.00 Wib Sholat Dzuhur berjama’ah 

> Jumlah peserta jalan sehat yg sudah mendaftar Sbb :

Peserta DT : 18000 orang

dari Luar : 25000 orang (dimungkinkan peserta akan terus bertambah)

Umum : belum bisa diperkirakan

> Untuk  Panitia tidak menyiapkan tempat bermalam bagi peserta dari luar kota Bandung,  hanya

Untuk para Ustadz disiapkan tempat bermalam di Hotel Cinnamon Jl. Setiabudhi No.300, Ledeng, Cidadap, Kota Bandung,

> Untuk 350 difabel bermalam di DT

> Tikpul peserta Jalan Sehat :

Untuk para peserta semua di Instruksi kan Kumpul di Pusdai dilanjutkan dengan melaksanakan Sholat Subuh berjamaah.

Benarkah Semua Prestasi Itu?

Saat ini, banyak beredar informasi di media sosial yang menyesatkan terutama terkait dengan pembangunan Jakarta yang diklaim sebagai prestasi Basuki Tjahaja Purnama; termasuk apa yang disampaikan Prof. Sarlito Wirawan dalam salah satu artikelnya.

Dalam tulisan itu, Sarlito menulis : ‘… Jalan-jalan tol, MRT, kereta bawah tanah dibangun terus (padahal di tangan gubernur-gubernur sebelumnya mangkrak semua).’

Prof. Sarlito telah menafikan jasa-jasa para mantan gubernur tersebut dalam membangun kota Jakarta dan menisbatkannya hanya kepada Basuki T. Purnama. Ini jelas tidak adil.

Saya saksi hidup -barangkali sudah langka- yang banyak tahu tentang track record para gubernur tersebut karena selama 28 tahun mengabdi di Dinas Tata Kota DKI Jakarta di bawah kepemimpinan 6 Gubernur; mulai dari Ali Sadikin (1966-1977), Tjokropranolo (1977-1982), Suprapto (1982-1987), Wiyogo (1987-1992), Suryadi Sudirdja (1992-1997) sampai dengan Soetiyoso (1997-2007). Masa kepemimpinan Fauzi Bowo (2007-2012), saya sudah pensiun. Akan tetapi, tetap mengikuti kiprah Fauzi Bowo. Sebetulnya, Basuki T. Purnama hanya melanjutkan blueprint pembangunan Jakarta sebagaimana yang telah diletakkan oleh para gubernur sebelumnya.

Para gubernur tersebut telah meletakkan kerangka makro pembangunan Jakarta yang komprehensif, termasuk program-program jangka panjang dan menengah serta skala prioritasnya. 

Ali Sadikin menyiapkan Rencana Induk Jakarta 1965–1985, Suprapto kemudian melanjutkan dengan Rencana Umum Tata Ruang DKI Jakarta 2005, Suryadi Soedirdja pada tahun 1996 merevisi dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi DKI Jakarta 2010, dan Fauzi Bowo melanjutkan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi DKI Jakarta 2030.

Skenario pembangunan Jakarta sudah ditentukan dalam dokumen tersebut di atas, baik secara keseluruhan maupun partial. Jadi konsepsi pembangunan jalan arteri tol dan non-tol, MRT, LRT, BRT (busway), pengendalian banjir, dan pengembangan fasos fasum, semuanya sudah tertera dan terprogram, tinggal menjalankan saja.

Perbedaan Basuki T. Purnama dengan para gubernur sebelumnya adalah : 

Basuki T. Purnama bekerja secara piece meal approach (menyelesaikan persoalan-persoalan kecil), antara lain membangun proyek-proyek yang bersifat kosmetik dan partial seperti pembenahan trotoar, pembersihan kali, pembangunan taman, menggusur hunian kumuh yang akhirnya menimbulkan banyak permasalahan sosial terhadap warga tergusur dan lain sebagainya. 

Sedangkan, para gubernur sebelumnya selalu bekerja dalam kerangka pembangunan yang menyeluruh dan terintegrasi sesuai skala prioritasnya, menyelesaikan masalah tanpa masalah; mendahulukan terbentuknya struktur jaringan makro Jakarta, terutama dalam aspek transportasi dan pengendalian banjir.
Pembangunan Jalan Arteri Tol dan Non-Tol

Sebelum Basuki T. Purnama menjabat sebagai gubernur, pembangunan struktur makro jaringan jalan arteri primer baik lingkar maupun radial Jakarta telah selesai seluruhnya.
Pembangunan Jalan Lingkar Dalam

Jalur Grogol-Cawang-Tanjung Priok dan beberapa jalan arteri radial (Cempaka Putih, Pemuda, Pramuka, dll) sudah selesai di era Gubernur Ali Sadikin. Peningkatan jalan lingkar dalam menjadi jalan tol terlaksana di era Gubenur Suprapto, Suryadi, Wiyogo. Pembangunan jalan lingkar luar, ruas Cakung-Cilincing, Kampung Rambutan-Vetreran, Kampung Rambutan-Cakung , Kembangan-Cengkareng, Kembangan-Veteran sudah dimulai sejak Gubernur Suprapto, dilanjutkan oleh Wiyogo, Suryadi Sudirdja, Sutiyoso dan dirampungkan oleh Fauzi Bowo.

Peningkatannya menjadi jalan tol juga pada masa para gubernur tersebut. Belum lagi banyak jalan arteri radial yang diselesaikan para gubernur setelah Ali Sadikin, antara lain; jl. Dr.Satrio, jl. Casablanca, jl. Rasuna Said, jl. Buncit Raya, jl. Antasari, jl. Pondok Pinang, jl. Pejompongan, jl. Panjang, jl. Latumeten, jl. Mangga Dua, jl. Ngurah Rai dan banyak lagi yang lainnya.

Basuki T. Purnama hanya menerima warisan struktur jaringan jalan makro Jakarta yang sudah terbentuk.

Adapun pembangunan 6 jalan tol baru yang sekarang ini sedang dilaksanakan, sebetulnya merupakan program Fauzi Bowo yang siap dilaksanakan. Namun karena mendapat kritikan tajam dari berbagai para pakar transportasi kota, maka program tersebut dibatalkan dan diganti dengan pembangunan 2 ruas jalan layang non tol, yaitu ruas Mas Mansyur-Dr. Satrio-Casablanca dan ruas Antasari. Ironisnya ketika Basuki T. Purnama melaksanakannya, media masa membungkam para pengkritik.
Pengendalian Banjir

Begitu juga dalam sistim pengendalian banjir, apa yang dilakukan Gubernur sebelumnya adalah membangun struktur makro pengendalian banjir yang sudah rampung seluruhnya, antara lain dengan pembangunan kanal, waduk dan saluran primer Jakarta. Banjir Kanal Barat sudah dimulai dibangun sejak zaman Ali Sadikin. Cengkareng Drain dan Cakung Drain dilanjutkan para Gubernur lainnya. Terakhir, Banjir Kanal Timur diselesaikan oleh Fauzi Bowo.

Bahkan program normalisasi kali juga sudah dilakukan pada beberapa sungai di Jakarta, seperti Kali Cideng, Morkervart, Gunung Sahari, dll. Pembangunan waduk Pluit, Sunter, Ria Rio juga hasil karya para gubernur tersebut.
Pengelolaan Sampah

Sistim dan mekanisme pengelolaan sampah mulai dari pembangunan Tempat Penampungan Sementara (TPS) di berbagai tempat di Jakarta sampai Tempat Penampungan Akhir (TPA) di Bantar Gebang juga sudah selesai dibangun. Kalaupun terjadi kericuhan dalam pengelolaan sampah belakangan ini, itu hanya menyangkut masalah manajemen saja.
Fasilitas Sosial-Fasilitas Umum

Berbagai macam fasos/fasum juga telah dibangun dalam jumlah yang memadai oleh para gubernur sebelumnya. Sekolah, mulai dari tingkat SD sampai SMA. Fasilitas kesehatan, mulai dari Puskesmas tingkat kelurahan, kecamatan sampai RSUD juga terbangun di setiap kelurahan, kecamatan dan wilayah kota. Hanya RSUD Jakarta Selatan yang dibangun Basuki T. Purnama melanjutkan program gubernur sebelumnya.

Demikian juga pembangunan pasar modern tersebar merata di seluruh kota, seperti pasar Tanah Abang, Pasar Senen, Pasar Glodok, Pasar Mayestik, Pasar Blok-M, Pasar Koja, Pasar Kebayoran Lama, Pasar Santa dll. Begitu juga pasar pasar tradisional yang jumlahnya ratusan.

Pembangunan terminal dalam kota dan luar kota, spt Terminal Kampung Rambutan, Terminal Blok-M, Terminal Cengkareng, Terminal Pulo Gadung, Terminal Lebak Bulus, dll sudah terlaksana sebelum Basuki T. Purnama menjabat. Pembebasan tanah terminal Pulo Gebang dilakukan masa gubernur Sutiyoso. Pembangunan fisiknya semasa Gubernur Joko Widodo. 

Dalam kegiatan olahraga, pembangunan gelanggang remaja di setiap wilayah kota, lapangan sepakbola semua sudah lengkap.
Mass Rapid Transit (MRT)

Sebetulnya, gagasan pembangunan MRT sudah dicetuskan sejak masa Ali Sadikin. Tetapi kajian saat itu menyimpulkan kemampuan membangun MRT belum ada. Barulah pada era Suryadi Soedirdja dibentuk Project Management Unit MRT untuk melakukan Feasibility Study Tentang Pembangunan MRT. Studi tersebut berhasil dirampungkan dan kemudian akan ditindak lanjuti dengan penyusunan Basic Design

Namun penyusunan Basic Design terpaksa ditangguhkan di era Sutiyoso akibat krisis ekonomi 1998. Baru saat Fauzi Bowo menjabat, studi tersebut dilanjutkan dan bahkan dibentuk PT. MRT JAKARTA untuk melaksanakannya. Ketika Joko Widodo menjadi gubernur, beliau tinggal melaksanakan apa yang sudah disiapkan oleh Fauzi Bowo.
Light Rail Transit (LRT)

Sutiyoso -karena mempertimbangkan kondisi perekonomian yang belum pulih- memutuskan menunda pembangunan MRT dan merintis pengembangan LRT sebagai gantinya. Pembangunan bekerjasama dengan pihak swasta sebagai investor. Tiang-tiang penyangga bahkan sudah dibangun, namun karena investor kesulitan modal maka proyek tersebut terhenti .
Bus Rapid Transit (BRT)

Akhirnya, Sutiyoso beralih membangun Bus Rapid Transit pada beberapa koridor jalan arteri dan dilanjutkan pada beberapa koridor lainnya oleh Fauzi Bowo. Sebetulnya BRT adalah pilihan yang tepat karena saat ini menjadi primadona di manca negara dalam memecahkan masalah transportasi. Pembangunan MRT sudah ditinggalkan kota-kota dunia karena selain biaya pembangunannya sangat mahal, teknologinya rumit, memerlukan waktu pembangunan yang lama, juga secara ekonomis tidak menguntungkan. Hampir semua operator MRT di seluruh dunia merugi dan disubsidi oleh pemerintah. Di kota Kahsiong (Taiwan) bahkan pembangunan MRT gagal karena sepi penumpang; demikian juga di Kuala Lumpur.

Bila MRT Jakarta nanti rampung, akan menjadi beban fiskal buat Pemprov DKI. Subsidi tiket diperkirakan sekitar Rp. 20.000/penumpang. Dengan perkiraan ridership 1 juta orang perhari, maka subsidi tiket/hari mencapai Rp. 20 M, Rp. 600 M/bulan, Rp. 7,2 T/tahun. Belum lagi biaya operasional, pemeliharaan (maintenance) dan pembayaran cicilan dan bunga hutang, mungkin pengeluaran pemerintah provinsi bisa mencapai angka Rp. 10 T setiap tahunnya.

Sebaliknya, biaya pembangunan BRT sangat murah, teknologinya tidak terlalu rumit, waktu pembangunan sangat cepat dan yang paling penting tidak akan menguras kas pemerintah. Di beberapa kota di dunia, pemerintah hanya menyiapkan infrastukturnya saja, sedangkan pengadaan bis disediakan operator. Ternyata juga kapasitas BRT dapat ditingkatkan setara MRT. Dengan menyediakan 2 lajur bis setiap arah dan menggunakan bis bi-articulated (3 rangkai gerbong), kapasitasnya bisa mencapai 55.000 penumpang/arah/jam setara dengan kapasitas MRT Lebak Bulus-Bundaran HI yang sedang dibangun.

Beberapa kota di dunia berhasil mengatasi masalah transportasinya dengan cara ini, seperti Bogota, Sao Paulo, Guangzu dll. *Ironisnya, Jakarta adalah kota pertama di Asia yang mengembangkan BRT tetapi beralih ke MRT, sementara kota2 lainnya di Asia meninggalkan MRT dan beralih ke BRT.*
Lain-lain

Masih banyak lagi hasil karya para gubernur tersebut yang spektakuler yang tetap akan dikenang sepanjang masa karena ada jejak sejarahnya.

Pembangunan Taman Impian Jaya Ancol, Taman Ismail Marzuki, Taman Mini Indonesia Indah, Ragunan, Planetarium di era Ali Sadikin.

Refungsionalisasi Monas sebagai Taman Kota, menghapus operasi becak di Jakarta, merintis liburan hari Sabtu, mengembangkan Kemayoran sebagai Arena PRJ dan Pusat Eksebisi bertaraf internasional, dll di era Wiyogo.

Pembangunan rumah susun murah di Kemayoran, Bendungan Hilir dan diberbagai tempat lainnya di era Suryadi.

Pembangunan Islamic Center dll di era Sutiyoso dan proyek2 lainnya di era Fauzi Bowo; yang kalau diuraikan akan menjadi daftar yang sangat panjang.

Singkatnya dari urusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak sampai yang menyangkut kematian (pengadaan TPUP) sudah disiapkan fasilitasnya di lima wilayah kota oleh para gubernur tersebut.

Ketika Sutiyoso menutup lokalisasi pelacuran di Kramat Tunggak yang luasnya 10 kali lebih besar dari Kalijodo dan menjadikannya sebagai Islamic Center terbesar se Asia Tenggara, sepi dari pemberitaan media masa. Sementara ketika Basuki T. Purnama menggusur Kalijodo dengan pasukan gabungan bersenjata lengkap, diberitakan besar-besaran dan bahkan dianggap pahlawan.

Prestasi Basuki T. Purnama sebetulnya belum ada apa-apanya dibanding para gubernur sebelumnya. Tetapi, dia akan dijadikan putra mahkota, maka direkayasalah oleh media asing dan aseng bahwa semua pembangunan di Jakarta sebagai prestasinya Basuki T. Purnama.

Mengakhiri tulisan ini, saya menghimbau kepada rekan-rekan purna bhakti Pemprov DKI Jakarta, mari kita kumpulkan data-data tentang pembangunan di Jakarta di masa Gubernur Ali Sadikin hingga dengan Fauzi Bowo untuk kita jadikan sebuah buku Sejarah Pembangunan Kota Jakarta, agar generasi mendatang tahu siapa saja yang banyak jasanya membangun kota Jakarta yang kita cintai ini dan agar tidak ada lagi yang gampang menyatakan di tangan gubernur-gubernur sebelumnya mangkrak semua.

Penulis: Ismail Zubir, Mantan PNS Dinas Tata Kota Pemprov DKI, Alumni Planologi-ITB

Setop! Genosida Muslim Rohingya


Rohingya, etnis muslim minoritas di Myanmar kini kondisinya tengah terjepit.

Warga di kawasan Rakhine dekat perbatasan Bangladesh ini seperti berada dalam penjara. Ancaman kelaparan parah dan kematian di Rakhine ini kian nyata mendekat.

Eskalasi konflik berdarah sebulan terakhir, membuat ratusan muslim Rohingya mencoba melarikan diri ke Bangladesh untuk menghindari tindak kekerasan yang dilakukan militer Myanmar. Kekerasan terus meningkat di Provinsi Rakhine dan telah menewaskan lebih dari 130 orang warga sipil.

Upaya mencari suaka tidak berjalan sempurna, sebagian muslim Rohingya ditembak mati saat mencoba menyeberangi Sungai Naaf yang memisahkan Myanmar dan Bangladesh. Sementara Muslim Rohingya lainnya yang tiba di Bangladesh dengan perahu, tidak diterima dan didorong menjauh oleh penjaga perbatasan Bangladesh.

Inilah sebagian derita Rohingya. Di satu sisi, mereka ingin tetap hidup di tanah airnya, mempertahankan warisan nenek moyangnya. Namun kampung mereka dibakar, tanah mereka dirampas, dan hidup dalam intimidasi milisi bersenjata. Di sisi lain, tak sedikit yang berupaya keluar dari negerinya untuk bertahan hidup, namun apa daya pintu perbatasan tak pernah terbuka lebar bagi mereka.

Saatnya wujudkan bantuan terbaik demi ringankan penderitaan saudara-saudara kita para etnis Rohingya dengan aksi nyata. Harta, jiwa, tenaga dan do’a, sangat mereka butuhkan.

Semoga, tiap bulir keikhlasan yang terpancar dari rasa kepedulian terhadap saudaranya, kelak manisnya akan kita petik di Surga-Nya.

#LetsACTIndonesia

#LetsHelpRohingya

Ini Dia, Isi Lengkap Tausyiah Kebangsaan Dewan Pertimbangan MUI

Bismillahirrahmanirrahim.
Mencermati dinamika kehidupan nasional di seputar kasus penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Dewan pertimbangan Majelis Ulama Indonesia yang keanggotaannya terdiri dari 70 ketua umum organisasi-organisasi Islam dan 29 tokoh ulama, zuama, dan cendikiawan muslim, dengan memohon rahmat, hidayah, dan ridha Allah SWT menyampaikan hal-hal sebagai berikut.

1. Memperkuat pendapat keagamaan Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia tanggal 11 oktober 2016 tentang penistaan agama, dan mendukung pernyataan sikap PBNU dan PP Muhammadiyah yang merupakan pendapat dan sikap sesuai ajaran Islam berdasarkan Al Quran dan Al Hadits. Pendapat keagamaan tersebut dikeluarkan sebagai kewajiban para ulama dalam menjaga agama dan mendorong kehidupan duniawi yang tertib, harmonis, penuh maslahat (haratsat al-din wa siyasat al-dunya), serta memelihara kerukunan hidup antar umat beragama demi persatuan dan kesatuan bangsa.

2. Menyesalkan ucapan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di Pulau Seribu “…jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu nggak bisa pilih saya. Ya kan. Dibohongin pakai surat Al Maidah 51 macam-macam itu. Itu hak bapak ibu. Jadi bapak ibu perasaan nggak bisa pilih ni karena takut masuk neraka. Dibodohin gitu ya..) yang beredar luas di masyarakat. Ucapan tersebut jelas dirasakan umat islam sebagai penghinaan terhadap agama Islam, kitab suci Al Quran, dan ulama, karena memasuki wilayah keyakinan pemeluk agama lain dengan memberikan penilaian (judgment) terhadap suatu pemahaman yang diberikan ulama, dan dengan memakai kata yang bersifat negatif, pejoratif, dan mengandung kebencian (hate speech). Ucapan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama tersebut menunjukkan intoleransi dan rendahnya tenggang rasa terhadap keyakinan orang lain dan sangat potensial menciptakan kegaduhan sosial dan politik yang dapat mengarah kepada terganggunya stabilitas nasional.

3. Memberikan apresiasi kepada kelompok umat Islam dan beberapa elemen bangsa yang menggelar aksi damai 4 november 2016 yang telah berlangsung aman dan damai yang dipimpin oleh para ulama, habaib, dan para tokoh Islam. Aksi damai tersebut yang menunjukkan kesatuan dan kebersamaan semua elemen bangsa merupakan ekspresi demokrasi yang konstitusional dan positif untuk mendorong penegakan hukum di negeri yang menganut supremasi hukum. Insiden yang terjadi di luar waktu unjuk rasa adalah ulah provokator yang hanya ingin menciderai aksi damai tersebut.

4. Menyampaikan bela sungkawa dan simpati yang mendalam atas jatuhnya korban (yang terluka maupun yang meninggal dunia), baik dari kalangan peserta aksi dan peserta keamanan dan diharapkan pada masa yang akan datang aksi damai tidak dihadapi dengan tindakan represif.

5. Karena kasus penistaan agama bukan masalah kecil, maka diminta agar proses hukum dijalankan secara berkeadilan, transparan, cepat, dan memperhatikan rasa keadilan masyarakat luas.

6. Menyerukan kepada seluruh umat Islam Indonesia untuk tidak terpancing dengan isu-isu yang menyesatkan dan provokatif serta memecah belah kehidupan umat dan bangsa indonesia. Seraya menyerukan dan mengajak umat Islam Indonesia untuk tetap menjaga ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathoniyah dan terus memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk kebaikan dan kemaslahatan bangsa.

Jakarta, 9 November 2016. 

Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia

Ketua: Prof. Dr. H.M. Din Syamsuddin, MA

Sekretaris: Dr. H. Noor Achmad, MA