Kepada Sembilan Tokoh Oposisi, Rakyat Menaruh Harapan

DPR sepakat terima Perppu Corona. Kompak! Seluruh fraksi, kecuali PKS. PKS nampaknya masih konsisten menolak Perppu.

Meski banyak pihak terus melakukan kritik dan penolakan terhadap Perppu corona yang dianggap sangat berbahaya ini, DPR gak peduli. Fakta gugatan sejumlah tokoh terhadap Perppu corona ke Mahkamah Konstitusi, sama sekali tak menjadi pertimbangan DPR. Tetap mengambil keputusan “menerima” sepenuhnya. Tok!

Sikap DPR ini seperti anti klimaks. Gak dengar dan gak peduli pada suara rakyat. Tidak hanya kali ini saja. Soal Jiwasraya, Asabri, Carut marut BUMN lain, Omnibus law, ibu kota baru, kereta cepat, dan terbaru soal BPJS, DPR dianggap gak ada greget. Seperti beda kepentingan dengan rakyat. Wajar jika kemudian muncul banyak pertanyaan: DPR ini mewakili suara siapa?

Jika begitu, lalu apa yang bisa diharapkan dari DPR sebagai lembaga kontrol terhadap pemerintah? Keadaan ini membuat rakyat semakin “marah” dan “frustrasi” .

Sebenarnya, jangan juga salahkan DPR. Suara rakyat kan sudah “dibeli putus” saat pemilu. Untuk di daerah pesisir dan pegunungan satu suara 50 ribu. Di perkotaan harganya 100 Ribu. Kenapa masih nuntut? Kan sudah jual putus? Yang boleh nuntut itu investor. Mereka investasi dana di bursa pemilu. Cukup besar angkanya. Selesai pemilu, tinggal panen. Sementara rakyat sudah terima pembayaran di awal. Kenapa menuntut?

Pemilu tak ubahnya seperti bursa saham. Berlaku hukum investasi. Rakyat curiga, banyak oknum di senayan yang telah bekerja untuk para investor. Kalau begitu, apa bedanya dengan direksi perusahaan?

Satu harapan yang tersisa dari rakyat yaitu peran civil society. Masyarakat mesti hadir dan melakukan kontrol sendiri terhadap pemerintah. Dalam konteks ini, rakyat berperan sebagai oposisi.

Ingat! Oposisi dimaknai sebagai upaya sungguh-sungguh untuk melakukan kontrol terhadap pemerintah. Agar pemerintah gak semakin jauh tersesat. Ini bukan makar!

Ketika lembaga yang punya otoritas dan diberi wewenang untuk melakukan peran kontrol ini tidak sepenuhnya berfungsi, maka rakyatlah yang turun tangan. Peran rakyat ini diperlukan agar kekuasaan tidak melampaui batas undang-undang dan sewenang-wenang.

Memang, ada semacam “lingkaran setan” di dalam pengambilan keputusan di DPR. Pemerintah kasih jatah kabinet ke sejumlah partai. Partai-partai itu tunjuk orang-orang kepercayaannya di fraksi. Fraksi itu dikendalikan oleh ketum partai. Logikanya, mana mungkin fraksi melawan pemerintah yang kasih jatah kabinet untuk partainya? Ini PR buat bangsa ini.

Dalam situasi seperti ini, munculnya para tokoh oposisi bukan saja kebutuhan, tapi keniscayaan politik. Rakyat butuh saluran kritik ketika Bapak-Ibu Yang Terhormat di parlemen dianggap tak lagi bisa mendengarkan hati dan harapan mereka.

Memalukan, kata Rizal Ramli. Perppu, terutama terkait hak budget, kekebalan hukum dan cetak uang, kok bisa diterima oleh DPR. Padahal Gubernur BI dan Menteri Keuangan menolak. Gelo! Kata Rizal Ramli dalam sebuah video yang viral di medsos.

Tak bisa berharap ke DPR, rakyat menyerahkan harapannya kepada sembilan tokoh oposisi yang dianggap selama ini mewakili suara rakyat. Mereka adalah Abdullah Hehamahua, Emha Ainun Najib, Habib Rizieq, Din Syamsudin, Rizal Ramli, Refly Harun, K. H. Najih Maemoen, Rocky Gerung dan Said Didu.

Sembilan tokoh ini dianggap konsisten menyambung lidah rakyat. Menyuarakan hati dan harapan rakyat yang seringkali gagal dipahami oleh wakil mereka di gedung parlemen.

Sembilan tokoh ini konsisten, gak pernah kendor, tegas suaranya, dan punya kapasitas baik intelektual maupun moral. Kritiknya terukur dan tidak ngawur. Yang pasti, mereka bukan tokoh partisan dan suaranya bukan hasil pesanan. Sangat layak jadi sparing partner ide, gagasan dan lawan argumentasi bagi kekuasaan.

Kepada sembilan tokoh ini, rakyat masih punya harapan di tengah hilangnya kepercayaan terhadap para elit politik yang “ngakunya” mewakili mereka.

Di luar para tokoh itu, banyak tokoh lain, ormas dan LSM yang juga tak kalah kritis dan nyaringnya dalam menyuarakan nurani rakyat. Satu dengan yang lain saling melengkapi dan menguatkan.

Kehadiran para tokoh oposisi ini setidaknya dapat menjaga harapan rakyat agar masih ada rasa optimis untuk masa depan bangsa ini. Selama masih ada orang-orang yang berani menyuarakan nurani dan kepentingan rakyat, berarti Indonesia masih ada.

Jakarta, 14 Mei 2020.

Penulis: Tony Rosyid (Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa)

Tips Memilih Jas Hujan Terbaik

Memasuki musim hujan, tips memilih jas hujan terbaik wajib diketahui mengingat menjadi salah satu barang bawaan wajib bagi para biker. Mengapa menjadi wajib? Karena belakangan hujan bisa tiba-tiba turun deras. Tak ada salahnya untuk menyiapkan jas hujan saat hendak berpergian.

Jangan mengandalkan jas hujan yang dijual murah di pinggir jalan, usahakan kamu telah menyiapkan jas hujan sendiri. Selain bisa menghemat pengeluaran dengan memiliki jas hujan sendiri, memahami tips memilih jas hujan terbaik juga akan membantu mendapatkan produk berkualitas.

Tips memilih jas hujan terbaik

Nah, buat kamu yang ingin membeli jas hujan, perhatikan 5 tips berikut agar jas hujan yang kamu beli awet. Selain itu, tips ini berguna agar tidak tertipu oleh harga dan penampilan dari jas hujan itu sendiri.

1. Tidak untuk Ponco

Hal pertama yang harus kamu perhatikan saat hendak membeli jas hujan adalah jangan memilih jas hujan berjenis ponco. Biasanya, jas hujan jenis ini banyak dipilih karena bisa digunakan untuk lebih dari satu orang. Jadi saat hujan turun, pengendara dan pembonceng hanya memerlukan satu jas hujan.

Untuk masalah ini memang ponco lebih efektif, namun untuk keselamatan penggunaan ponco sangat tidak dianjurkan.Banyak kasus kecelakaan saat hujan yang disebabkan karena ponco. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Desain ponco yang seperti jubah panjang dapat membahayakan siapapun yang berada di dekat kamu, termasuk kamu sendiri. Desain yang panjang bisa menyebabkan bagian bawah ponco tersangkut di roda ataupun gir rantai motor kamu. Jika sudah terjadi demikian, bisa dipastikan kamu akan terjatuh dari motor karena bagian yang tersangkut itu akan menarik ponco dan ikut berputar seiring dengan ban atau rantai yang sama-sama berputar.

Jas hujan yang disarankan adalah jas hujan dengan dua bagian, bagian atas untuk menutupi badan dan bagian bawah yang berfungsi menutupi bagian pinggang hingga kaki. Lebih baik kamu mengeluarkan biaya lebih untuk jas hujan yang lebih baik dari pada untuk membayar biaya perawatan rumah sakit.

2. Pilihlah Bahan yang Nyaman

Penggunaan bahan dasar jas hujan yang nyaman akan membuat kamu tidak terganggu saat memakainya. Jangan gunakan jas hujan berbahan parasut atau bahkan plastik seperti yang banyak dijual di pinggir jalan saat hujan turun. Bahan parasut akan membuat kamu kepanasan dan merasa tak nyaman, sedang bahan plastik membuat jas hujan kamu tidak awet dan mudah robek.

Disarankan, jas hujan yang kamu pilih bercoating glossy atau bening yang anti-embun.

Bahan polyvinyl chloride (PVC) juga bisa menjadi pilihan karena bahan ini dinilai lebih kedap dibanding bahan lainnya. Setelah memilih bahan, pastikan ukuran jas hujan pas dengan tubuh kamu. Jas hujan yang terlalu besar akan membahayakan keselamatan kamu di jalan. Selain itu, ukuran jas hujan yang terlalu kecil akan membuat kamu tidak nyaman.

3. Perhatikan Ritsleting

Nah, untuk yang satu ini kamu harus lebih teliti. Sebaiknya kamu memeriksa atau menanyakan ke pedagang bahan apa yang digunakan untuk ritsleting pada jas hujan yang kamu ingin beli. Mengapa hal ini perlu dilakukan? Alasannya tak lain agar jas hujan kamu lebih awet.

Tips memilih jas hujan terbaik selanjutnya adalah memilih jas hujan yang menggunakan retsleting berbahan tembaga atau kuningan. Jika retsleting berbahan tembaga ataupun kuningan sulit ditemukan, kamu bisa memilih jas hujan dengan retsleting berbahan besi.

Namun perlu diingat, besi bisa menyebabkan karat, jadi kamu harus memilih jas hujan dengan penutup pada bagian retsleting agar tidak mudah berkarat. Penutup pada bagian retsleting juga diperlukan pada jas hujan agar air tidak masuk melalui sela-sela retsleting. Yang perlu kamu hindarkan adalah retsleting yang menggunakan plastik sebagai bahan dasar.

Plastik dinilai tidak lebih awet dibanding tiga bahan yang sudah disebutkan sebelumnya. Jika retsleting sudah rusak, mau tidak mau kamu harus memperbaiki jas hujan atau bahkan harus membeli jas hujan baru. Tentu akan menambah pengeluaran yang tidak sedikit.

4. Jangan Menggunakan Jahitan

Keempat, jangan pilih jas hujan yang menggunakan jahitan pada tiap bagiannya. Jahitan pada jas hujan akan menyebabkan air hujan masuk atau rembes ke dalam. Jika sudah begini, rasanya percuma jika kamu tetap menggunakan jas hujan. Pada akhirnya kamu akan sama-sama kebasahan.

Jika jas hujan pilihan kamu tetap ada jahitan dan letaknya pada retsleting mungkin itu masih terbilang wajar. Tetapi pastikan pada bagian tersebut terdapat penutup seperti yang sudah disinggung pada poin sebelumnya.

5. Pilih Warna Terang

Terakhir, pilihlah jas hujan dengan warna terang. Hal ini diperlukan agar pengguna jalan lain dapat melihat keberadaan kamu di jalan. Warna gelap pada jas hujan mungkin akan masih terlihat jika intensitas hujan tidak besar, maka hal itu tak menjadi masalah. Namun jika intensitas hujan terbilang besar, maka warna terang akan memudahkan pengendara lain karena warna terang mudah dilihat.

Warna terang pada jas hujan juga akan membuat kamu lebih aman. Jika jas hujan pilihan kamu tidak memiliki warna terang, maka usahakan cari jas hujan yang memiliki reflektor. Reflektor berfungsi untuk memantulkan kembali cahaya yang datang.

Nah, jika hujan deras otomatis para pengendara akan menyalakan lampu kendaraan mereka. Di saat itulah reflektor berfungsi. Sama halnya dengan warna terang, reflektor akan membuat kamu lebih aman di jalan.

Setelah mengetahui tips di atas, maka kamu tahu harus memilih jas hujan seperti apa. Jangan memilih jas hujan karena alasan murah tetapi membahayakan keselamatan kamu. Lebih baik keluar biaya lebih mahal sedikit dari pada harus mengorbankan keselamatan. Semoga tips memilih jas hujan terbaik ini bermanfaat!

Sumber: Bukalapak
Untuk order jas hujan sesuai tips di atas, silakan japri saya! 😎

Virus Corona, Singapura dan Indonesia

Orchard Road, Kampung Bugis, dan Little India merupakan kenangan indah bagi puluhan juta pelancong Indonesia yang pernah menikmati tamasya ke Singapura. Para penjudi kita lebih mengenang lagi casino di Sentosa Island. Bahkan, konon ada seorang mantan pimpinan Dewan Perwakilan Daerah (DPD-RI) masih menyimpan uangnya Rp. 600 Milyar di Kasino itu.

Bagi pengusaha Indonesia, Singapura sudah menjadi rumah kedua. Ada yang memanfaatkan Singapura sebagai “international hub” bagi ekspansi bisnis mereka. Tapi ada juga seperti bisnis keluarga Erick Tohir, menteri BUMN RI, yang diberitakan berbagai media tahun lalu, melakukan potensi kejahatan, di mana perusahaan mereka diberitakan memindahkan pajak sebesar $125 juta alias 1.710.125. 000.000 rupiah.

Atau ada juga tuduhan mafia migas Indonesia yang dianggap bermarkas di Singapore.

Tidak adanya perjanjian ekstradisi kriminal Indonesia – Singapura, dianggap menjadikan Singapura tempat perlindungan terdekat penjahat kerah putih Indonesia. Sebelum tax Amnesty, diberitakan sekitar 4000 triliun uang segelintir orang Indonesia diparkir di sana.

Hari ini Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, telah berpidato di televisi dan media lainnya terkait penyebaran virus corona yang semakin mencekam di Singapura. Pemerintah menaikkan level bahaya ke warna orange. Lee sedang merespon kepanikan masyarakat “city state” berpenduduk 5,5 juta jiwa itu, di mana penduduk sudah ketakutan dan berlomba2 membeli stok makanan.

“Kita yakin bahwa bersama2, kita boleh melewatkannnya”, kata Lee dalam bahasa Melayu. Lee mengingatkan mereka dahulu juga mereka pernah mengatasi serangan virus SARS.

Kejadian panik warga Singapura dan respon Lee tentu menjadi tanda keguncangan besar negara tetangga ini. Sudah 40 kasus virus korona sejauh ini, termasuk seorang TKW Indonesia. Kepanikan ini beralasan, 1) Sudah terjadi penyebaran di Singapura di antara mereka, bukan lagi pendatang dari RRC. Seperti TKW Indonesia itu, tidak pernah ke RRC. 2) Turis atau pelancong RRC adalah yang terbanyak datang ke Singapura. Sumber di mana “outbreaks” virus corona. 3) Singapura adalah negara kota, tidak punya tempat lain untuk menjauh atau melarikan diri.

Dalam situasi peradaban digital dan online seperti sekarang, informasi sudah menyebar cepat, yang kadangkala melampaui fakta. Meski pemerintah Singapura berpikir bisa menenangkan rakyatnya, bisa jadi rakyat mereka lebih panik lagi. Dan terakhir, pemerintah Singapura takut dengan “rush money”, meskipun berita “rush money” ini belum berkembang besar.

*_Lalu apa kaitannya dengan Indonesia?_*

1) Indonesia harus mulai mempertimbangkan berita riset Harvard University yang menilai Indonesia seharusnya sudah ada kasus virus corona ini. Mempertimbangkan volume interaksi warga Wuhan, Hubei di kawasan ini. Kasus interaksi warga Malaysia dan Inggris yang positif terkena virus corona dengan warga China di Singapura telah menjadi berita. Dalam situs aseanbriefing. com,
“The Coronavirus in Asia and ASEAN – Live Updates by Country”, Indonesia masih diberitakan tanpa kasus terjangkit virus corona ini, bersama Myanmar. Namun, semua negara asean lainnya sudah mengakui ada kasus.
2. Indonesia harus mulai mencemaskan interaksi warga kita dengan warga Singapura. Interaksi warga Indonesia dan Singapura begitu tinggi, mencapai 17.000 jiwa pelancong perhari (merujuk pada pernyataan dirjen pengendalian dan pencegahan penyakit menular, Kemenkes RI). Saat ini pemerintah Singapura telah menaikkan tanda orange pada wabah corona. Artinya apa? Artinya kita juga sudah harus mulai membatasi interaksi dengan warga Singapura.

3) Indonesia harus mempertimbangkan kerjasama baru dengan Singapura. Apakah itu? a) Indonesia bisa menyediakan wilayah/pulau khusus bagi warga Singapura untuk meghindar dari kecemasan dan kepanikan selama isu virus ini ada. Mereka dapat menjadi penghuni sementara. b) Singapura memberi bantuan kerjasama riset bidang kesehatan dengan Indonesia, khususnya menangani wabah virus corona ini. 3) Singapura menutup semua fasilitas kemudahan bagi uang2 orang2 Indonesia baik yang sudah deklarasi, maupun uang haram yang mencapai ribuan triliun.

*Penutup*

Penyebaran virus Corona di Singapura sudah membuat kepanikan pada warga mereka. Sebagai masyarakat kaya raya dan cerdas, kepanikan mereka memounyai alasan yang kuat. Meski pemerintah Singapura mengatakan tidak perlu panik, faktanya kepanikan terjadi, mereka mulai menyiapkan stok pangan.

Singapura adalah tetangga dekat kita, sebuah negara kota, yang warganya tidak mampu lari jika wabah virus melanda semakin besar. Di sana jutaan orang2 Indonesia berinteraksi setiap tahunnya.

Sebagai negara tetangga, kita harus memberikan peluang agar Singapura memanfaatkan wilayah Indonesia yang luas sebagai tempat mereka bermukim sementara, jika diperlukan. Tentu di desain sejak awal. Seperti pulau2 disepenjang Sumatera.

Namun, Singapura sebagai tempat bersembunyinya ribuan triliun uang2 haram, baik yang sudah dideklarasi dalam tax amnesty maupun belum, serta tempat berkuasanya mafia2 bisnis seperti mafia minyak, harus menjadi objek perundingan yang mungkin dapat dibicarakan dengan mereka.

Sekaligus mengingatkan mereka bahwa tetangga yang baik harus mampu menunjukkan semangat kebersamaan dan kemajuan bersama. Termasuk mengajarkan kita tentang bahaya virus corona.

Penulis: Dr. Syahganda Nainggolan (Sabang Merauke Institute)

(Video) Bersyukur

Selalu bersyukur atas apa yg kita punya. Karena dengan bersyukur maka kita akan bahagia. Jangan menunggu bahagia dahulu baru bersyukur, gak akan ada habisnya. 🤭.Satu lagi, teruslah lihat ke depan sambil sesekali lihat ke bawah, karena kalau kita selalu lihat yang ada di atas, pasti akan tersandung.

.

Bisa Sholat Subuh Berjamaah di Masjid, Kenikmatan Besar Bagi Seorang Laki-Laki

Ada banyak pahala yang dapat diraih seorang lelaki yang tak malas melangkahkan kakinya ke masjid untuk sholat berjamaah di waktu subuh. Bahkan, langkah kakinya yang digunakan untuk menuju masjid, akan menggugurkan dosa-dosanya.

Selain kenikmatan yang telah disebutkan tersbut, ada banyak alasan lain yang mengharuskan lelaki shalat shubuh di masjid.

Pertama : Mendapatkan Pahala Shalat Malam Sepanjang Waktu

Shalat shubuh dan shalat isya adalah sebuah ujian ujian tersendiri bagi sebagian orang. Seperti ujian pada umumnya, kedua shalat ini pun menjanjikan hadiah yang manis bagi manusia yang berhasil melaksanakannya.

“Barangsiapa yang melakukan shalat isya berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat setengah malam. Barangsiapa yang melakukan shalat shubuh berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat malam sepanjang waktu malam itu,”(HR. Muslim, dari Utsman bin Affan Radhiallahu ‘anhu).

Kedua : Dibebaskan Dari Sifat Orang Munafik

Ciri-ciri orang munafik tidak hanya dilihat dari ucapannya yang sering berbohong atau janjinya yang sering berkhianat. Tapi juga bisa dilihat dari kesadarannya mendirikan shalat shubuh dan isya berjamaah.

“Tidak ada shalat yang lebih berat (dilaksanakan) bagi orang munafik daripada shalat shubuh dan isya. Seandainya mereka tahu (keutamaan) yang terdapat di dalamnya, niscaya mereka akan melakukannya kendati dengan merangkak. Sungguh aku telah hendak memerintahkan kepada petugas adzan untuk iqamat (shalat) kemudian aku mengambil bara api dan membakar (rumah) orang yang belum tidak keluar melaksanakan shalat (di masjid),” (HR. Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah).

Ketiga : Akan Mendapat Cahaya Terang Pada Hari Kiamat

Shalat shubuh yang dilaksanakan pada pagi buta memang menjadi ujian tersendiri. Gelap, dingin, ngantuk, dan godaan lainnya.

Tapi tahukah Anda, justru kekuatan kita untuk menghalau berbagai kemalasan ini akan mendapat balasan setimpal di hari kiamat nanti.

Allah akan memberikan cahaya yang sempurna bagi kita yang melaksanakan shalat shubuh berjamaah di masjid.

Dari Buraidah al-Aslami Radhiyallahu Anhu dari Nabi bersabda, “Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang berjalan pada saat gelap menuju masjid, dengan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat,” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Keempat : Berpeluang Mendapatkan Pahala Haji atau Umrah Bila Berzikir Hingga Terbitnya Matahari

Anda merasa kurang dan tidak berkecukupan? Impian umrah dan haji rasanya begitu sulit kita raih?

Jangan berkecil hati dulu, Allah akan memberikan pahala setara dengan umrah dan haji untuk kita yang rutin berdoa dan melaksanakan shalat shubuh berjamaah di masjid.

“Barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah kemudian dia duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lantas shalat dua rakaat, maka baginya seperti pahala haji dan umrah, yang sempurna, sempurna, sempurna,” (HR. Tirmidzi).

Sumber: Bighio.com

Cerita Haru Santriwati Khatam Al Quran dalam Waktu 1,5 Bulan

Imelda Fitriana (16) santriwati Pondok Pesantren Darussalam, Kersamanah, Kabupaten Garut tidak bisa menahan tangis bahagianya. Bagaimana tidak, perjuangannya selama 1,5 bulan untuk bisa menghafalkan 30 juz Alquran akhirnya tercapai.⁠

Ia mengaku tidak mudah untuk bisa menjadi hafidzah Alquran 30 juz karena rintangannya yang luar biasa. Tantangan dimulai sejak ia masuk kelas khusus yang disiapkan bersama rekan-rekannya yang dipilih harus menyelesaikan hafalan selama 2 bulan.⁠

Sebelum masuk ke dalam kelas khusus, Imelda menyebut bahwa hal pertama yang harus disiapkan adalah meluruskan niat.⁠

Tantangan dan godaan, diakui Imelda harus dihadapi, mulai tantangan secara lahiriyah maupun bathiniyah. “Alhamdulillah Allah selalu mendorong saya untuk menghafal Alquran, akhirnya saya bisa menghatamkan Alquran,” ucapnya.⁠

“Selama dua bulan kita dikhususkan untuk masuk kelas khusus, tidak mengikuti kegiatan pondok selama dua bulan, kemudian setiap minggunya mengadakan penghadapan ijazah sampai mencapai targetnya,” kata wanita yang bercita-cita menjadi dokter ini.⁠

Imelda sendiri, kemarin bersama 137 rekannya diwisuda karena telah menyelesaikan hafalan Alquran sampai 30 juz. Dalam wisuda, ia bersama rekan-rekannya mendapatkan hadiah dari negara Kuwait, mulai plakat hingga uang tunai USD 100.⁠

Sumber: Merdeka.com

Boven Digoel

Jaman penjajahan Belanda, Boven Digoel di Papua adalah tempat pembuangan para pejuang kemerdekaan. Mereka dijauhkan dari rakyatnya agar tak mampu menggalang kekuatan untuk bergerak. Daerah ini tentu bukan tempat yang nyaman dan menyenangkan. Penjara alam, area penghukuman dan pengucilan. Muhammad Hatta, Sutan Syahrir dan Sayuti Melik pernah di buang ke sini, begitupun dengan banyak tokoh PNI. Sebelumnya pemberontak PKI tahun 1926 an juga dibuang ke Digoel.

Boven Digoel merupakan pemekaran dari Kabupaten Merauke tahun 2002. Menjadi daerah terpinggir timur berbatasan dengan New Guinea. Menampakkan pembangunan berbagai bidang mulai dari penataan perkampungan, pembinaan SDM, UNDP’s Programme, New Zealand Aid, pengembangan infrastruktur, hingga pelayanan kesehatan. Klinik Asiki di Boven Digoel menjadi klinik terbaik tingkat nasional pada Agustus 2019. Boven Digoel sekarang bukan lagi penjara alam. Tetapi alam bebas yang lebih nyaman dalam kehidupan kemasyarakatannya.

Kini tiba-tiba nama Boven Digoel mencuat ke permukaan. Menjadi berita di berbagai media. Bupati Boven Digoel Benediktus Tambonop, S.Stp yang juga kader PDIP ditemukan meninggal di Hotel Mercure Jakarta setelah mengikuti acara Rakernas I PDIP 2020 di JIExpo Kemayoran Jakarta.
Alumni STPDN Jatinangor ini meninggal karena sakit jantung.

Ditemukan jamu penguat jantung di kamarnya. Menurut wanita hiburan malam yang minum bersamanya, Beny panggilan Benediktus tiba-tiba jatuh dan meninggal. Wanita ini menerima bayaran uang 10 Juta. Sedang polisi menemukan uang milik Bupati 100 Juta rupiah.

Gambaran gaya hidup hedonis pejabat Daerah. Pemimpin yang berasal dari partai “wong cilik” yang kini menjadi “partai penguasa”. Merepresentasi gaya hidup pejabat dan wakil rakyat dari berbagai partai lain juga. Uang mudah didapat, fasilitas mewah, serta status sosial “terhormat” membuat seakan bisa melakukan apapun.

Masyarakat pun dikejutkan dengan korupsi sekarang yang bukan kelas ratusan juta lagi, akan tetapi milyar bahkan trilyunan rupiah. Luar biasa krisis kepemimpinan di negara Republik Indonesia. Pusat dan Daerah.

Boven Digoel mengingatkan pejuang kemerdekaan yang telah berubah menjadi penguasa yang merdeka. Dulu banyak pejuang mati terbuang di pojok timur batas negeri. Kini Bupati mati di ruang pergaulan merdeka di ibukota negeri. Negeri yang marak dengan korupsi. Dibawah Pemerintahan Presiden Jokowi.

Andai Boven Digoel dibuat penjara besar, maka nampaknya banyak pejabat yang sekarang layak “dibuang” ke Boven Digoel.
Biar negeri ini bersih dari perilaku para penipu, penindas, perampas, dan penggasak uang rakyat. Mereka adalah gerombolan penjahat. (*)

*Penulis: M Rizal Fadillah (Pemerhati Politik)

Rakus

Rakus. Tamak. Itulah masalah laten di negeri ini.

Di tengah-tengah kemiskinan 24 juta orang, menurut BPS, atau 100 juta orang menurut Bank Dunia, para pejabat ramai-ramai bancakan uang negara. Bukan hanya pejabat pusat. Pejabat daerah pun ikut-ikutan rakus.

Kebobrokan tingkah laku pejabat BUMN-BUMN kini terkuak. Dimulai dari direksi Garuda yang menyelundupkan motor-motor mewah. Pejabat Asuransi Jiwasraya yang menggerogori uang perusahaan sampai 13,7 triliun Pejabat Asabri yang diduga merugikan perusahaan sampai 10,8 triliun dan lain-lain.

Kerakusan bukan hanya korupsi atau penyelewengan uang negara. Kerakusan dimulai dari tidak empatinya para pejabat terhadap kondisi jutaan kaum miskin di Indonesia. Anggota DPR yang menerima gaji tiap bulan 100 juta sebenarnya bisa digolongkan rakus. Begitu pula direksi atau komisaris Pertamina yang menerima gaji 3 milyar per bulan juga rakus.

Lihatlah misalnya kerakusan di Bank Pemerintah pada tahun 2016. Bank Mandiri pada 2016 telah mengeluarkan dana untuk gaji Dewan Komisaris sebesar Rp 15,97 miliar yang dibagikan untuk 9 orang. Jika dihitung secara rata-rata gaji perorangan dewan komisaris Rp 1,77 miliar per tahun atau Rp 147,91 juta per bulan.

Sembilan Komisaris Bank Mandiri di 2016 juga mendapatkan tunjangan rutin Rp 4,67 miliar atau Rp 518,9 juta per orang per tahun atau Rp 43,2 juta per bulan. Sedangkan untuk pembagian tantiem (bonus) di 2016 untuk 13 orang sebesar Rp 65,78 miliar atau rata-rata Rp 5,06 miliar per orang.

Sementara untuk dewan direksi Bank Mandiri total gaji yang telah disalurkan sebesar Rp 39,06 miliar untuk 12 orang. Jika dibagi rata-rata per direksi mendapatkan gaji Rp 3,25 miliar per tahun atau Rp 271,26 juta per bulan. Kemudian untuk pembagian tantiem di 2016 sebesar Rp 212,03 miliar untuk 17 orang atau Rp 12,47 miliar.

Sementara untuk total tunjangan rutin untuk 12 orang direksi Bank Mandiri sebesar Rp 7,8 miliar atau Rp 650,3 juta per orang per tahun atau Rp 54,2 juta per orang per bulan.

Begitu pula yang terjadi pada BPJS. Di tengah-tengah BPJS defisit trilyunan, direksinya menikmati gaji ratusan juta. Mengutip Rencana Kerja Anggaran Tahunan (RKAT) 2019, BPJS Kesehatan menganggarkan beban insentif kepada direksi sebesar Rp32,88 miliar. Jika dibagi ke delapan anggota direksi, maka setiap anggota direksi mendapatkan insentif Rp4,11 miliar per orang. Dengan kata lain, masing-masing direksi menikmati insentif Rp342,56 juta per bulan.

Kerakusan bukan hanya pada pejabat pusat. Pejabat daerah kini ikut-ikutan rakus. Gaji anggota DPRD Depok kini mencapai 45 juta per bulan. Gaji DPRD Kota Bekasi berkisar 46 juta dan seterusnya.

Kalau para pejabat itu ada empati untuk orang miskin di tanah air, gaji mereka harusnya tidak lebih dari 30 juta. Coba bayangkan bila gaji anggota DPR RI 30 juta pe bulan, bukan 100 juta, maka bisa dihemat 70 juta x 575= Rp. 40,25 milyar. Coba berapa ratus rumah bisa dibangun untuk orang miskin tiap bulan dengan uang 40 milyar itu? Katanya wakil rakyat, rakyatnya banyak yang miskin kok mereka enak-enakan kaya sendiri.

Begitulah kerakusan yang terjadi di negeri ini. Maka jangan heran, kalau korupsi terus menjamur baik di pusat maupun di daerah. Karena lingkungan kerja atau lingkungan birokrasi yang ada membuat orang saling bersaing untuk kaya, bukan empati kepada orang miskin.

Bila dimenej secara tepat dan para pejabat tidak rakus, maka Indonesia akan cepat mencapai adil makmur. Tapi selama pejabatnya tamak dan sistem penggajian seperti ini, mustahil Indonesia menjadi adil makmur. Yang terjadi adalah BUMN-BUMN makin bobrok dan rakyat makin miskin. Seperti yang terjadi sekarang ini.

Begitulah bila keuangan di negeri ini dijadikan bancakan para pejabat. Bukan diatur sesuai dengan manajemen Umar bin Khatttab atau Umar bin Abdul Azis. Di masa dua khalifah itu, Baitul Mal (Keuangan Negara) kaya raya, tapi para pejabatnya hidup sederhana. Sehingga rakyatnya adil makmur. Saking makmurnya di masa Umar bin Abdul Azis, pemerintah kesulitan menyalurkan harta zakat di negerinya.

Perilaku rakus ini membahayakan, baik diri pribadi maupun masyarakat. Nabi pernah berpesan kepada Hakim bin Hizam : “Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu indah menggoda. Barang siapa yang tidak mengambilnya dengan rakus maka ia akan mendapati berkah. Barang siapa yang mengambilnya dengan rakus, maka ia tidak akan mendapati berkah; ia seperti orang makan yang tidak merasa kenyang” (HR al-Bukhari).

Rasulullah saw juga pernah berpesan : “Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat tamak manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya.”
Allâh SWT berfirman: “Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” [Al-Fajr/89:20]. “Dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan.” [Al-‘Âdiyât/100:8].

Dari Abbas bin Sahl bin Sa’ad, ia berkata, “Saya pernah mendengar Ibnu Zubair dalam khutbahnya di atas mimbar di Mekah berkata: “Wahai manusia! Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sungguh, seandainya anak Adam diberikan satu lembah yang penuh dengan emas, pasti dia akan ingin memiliki lembah yang kedua, dan jika seandainya dia sudah diberikan yang kedua, pasti dia ingin mempunyai yang ketiga. Tidak ada yang dapat menutup perut anak Adam kecuali tanah, dan Allâh Subhanahu wa Ta’ala menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat.”

Rasulullah saw juga berpesan : “Sesungguhnya dinar dan dirham telah membinasakan orang-orang sebelum kalian dan keduanya juga membinasakan kalian.” (*)

*Penulis: Nuim Hidayat (Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Depok)