Bersyukur, Mengapa Sulit?

Seorang teman dari kawannya sahabat bercerita:

Suatu siang aku makan di sebuah warteg (Warung Tegal). Warung ini sering aku lewati. Biasanya aku tidak pernah tertarik pada warung yang satu ini. Warung ini terletak menyempil diantara kios-kios lain dan sangat tidak menarik penampilannya, namun entah mengapa hari itu aku merasa tertarik untuk makan di sana. Warung itu sepi sekali. Selama aku makan hanya beberapa orang saja yang datang untuk memesan makanan untuk dibawa pulang, jadi hanya aku sendiri saja yang makan di sana.

Aku memesan nasi berikut sayur tahu dan rendang ati-ampela ayam serta air dingin segelas. Ternyata makanannya cukup sedap dan air dinginnya-pun dipenuhi dengan es batu yang besar sehingga aku bisa menambahkan air putih jika kurang. Aku sangat menikmati makan siangku. Bahkan aku sempat minta tambah nasinya. Selesai makan aku menyalakan sebatang rokok. Aku berencana untuk berlama-lama menikmati rokok dan air dingin di sana.

Baru dua atau tiga hisapan rokokku, masuk seorang lelaki tua. Mungkin dia seumur denganku namun karena hidupnya susah menjadikan dia terlihat lebih tua. Dia masuk sambil berkata lirih kepada si penjual, “Ibu, tolong buatkan saya makan tiga ribu rupiah saja.” Aku tersentak, apa yang akan dia dapatkan dengan tiga ribu rupiah untuk makan pada saat sekarang ini. Segera saja aku bangun memanggil si penjual dan minta dihitung berapa yang aku makan. Delapan ribu rupiah untuk semua yang aku makan berikut air dinginnya. Aku keluarkan uang sepuluh ribu rupiah dan berkata kepada si penjual, “Ini sepuluh ribu rupiah, kembaliannya tambahkan pada pesanan Bapak ini.” Bapak tadi kaget dan langsung mengucapkan terimakasih kepadaku. Tidak hanya sekali dia mengucapkan terimakasih, tetapi berkali-kali selama aku masih mengemasi barang-barangku di atas meja. Wajahnya terlihat begitu gembira seolah-olah baru mendapatkan lotere. Dan terakhir dia berkata, ”hati-hati di jalan semoga selamat.”

Ketika aku berjalan keluar menuju kendaraanku aku berfikir, mengapa hanya dua ribu rupiah sisa kembalian yang aku berikan kepadanya; mengapa tidak sekalian saja aku bayarkan seluruh makanannya; mengapa tidak aku bayarkan juga makanan untuk keluarganya. Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Dua ribu rupiah yang aku berikan kepadanya merupakan spontanitas dan ikhlas aku keluarkan. Aku tidak mengharapkan apapun darinya dengan uang dua ribu rupiah kecuali dia bisa menikmati makan siang yang lebih layak. Namun “mengapa-mengapa” yang terpikirkan timbul akibat dari ucapan terima-kasihnya dan do’anya. Aku mengharapkan ucapan terimakasihnya, aku mengharapkan imbalan dari apa yang aku keluarkan. Aku menjadi sombong karena kemampuanku, belum lagi rasa riya yang mulai menggeliat keluar. Maka segera saja aku tinggalkan tempat itu.

Sampai di situ teman dari kawannya sahabat kami berhenti bercerita. Dan mulailah kami mengomentari kisahnya, karena kami memang komentator yang baik namun buruk dalam bertindak.

Setelah mereka semua pergi, dan tinggal sendiri, saya merenungi kisah tadi. Ada satu hal, selain pelajaran ikhlas, yang saya temukan di sana. Sang Bapak dalam kisah tadi begitu mensyukuri apa yang di dapatnya, walau hanya uang sebesar dua ribu rupiah yang setara dengan dua batang rokokku. Lalu kapankah aku pernah bersyukur? Aku mendapatkan bukan hanya sepuluh kali lipat tapi bisa seratus, seribu bahkan lebih, dari apa yang didapatkan bapak tadi. Aku selalu merasa bahwa Tuhan tidak memberikan aku rejeki yang layak. Aku merasa hina di bandingkan Bapak tadi.

Ya, Tuhan-ku ampunilah aku.
Betapa aku tidak pernah mensyukuri apa yang telah engkau berikan.
Ampunilah segala prasangka yang aku tujukan kepada-Mu.

Ya, Tuhan-ku bantulah aku.
Jadikanlah aku menjadi bagian dari orang-orang yang selalu beryukur.
(Sumber: istimewa)

View on Path

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s