Setop Arogansi di Jalan!

AROGANSI berujung pada anarki. Sifat sombong alias arogan di jalan raya hanya menyulut api. Saat asap mengepul lantaran api tadi menjalar kemana-mana, banyak pihak yang dirugikan.

Sikap arogan juga tidak jarang mendorong seseorang untuk melanggar aturan di jalan. Nah, kalau yang satu ini urusannya bukan sekadar adu mulut atau adu otot, ujungnya bisa terkapar di jalan raya. Masih ingat kan kalimat ini, “kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan di jalan.”

Mau contoh?
Saat seseorang dengan arogannya menerobos lampu pengatur lalu lintas jalan, bukan mustahil memicu tabrakan. Kalau sudah begini, yang menabrak dan ditabrak sama-sama menderita.

Jangan-jangan malah bisa berujung di balik jeruji penjara. Itu dengan catatan korban atau pelaku kecelakaan tidak meninggal dunia.

Arogansi di jalan tak semata dipertontonkan dengan aktifitas melanggar aturan. Praktik ini juga mempertontonkan permintaan prioritas.

Bagaimana hanya untuk alasan malas antre, ada rombongan yang menyewa pengawalan kebablasan hingga akirnya meminta prioritas.

Jika arogansi yang berwujud pelanggaran aturan buahnya bisa amat getir, yakni gesekan horizontal. Terjadi adu mulut, adu jotos, bahkan mungkin adu pistol. Nah, untuk arogansi yang berwujud permintaan prioritas di jalan buahnya bisa menyuburkan kesinisan atau memperlebar kesenjangan sosial. Antara si lemah dan si kuat kian besar jaraknya. Sinisme tadi juga bukan mustahil pada suatu titik menimbulkan gesekan horizontal sesama pengguna jalan. Cuma nunggu momentum. Sekali sundut, meledak.

Pertanyaannya, kenapa seorang pengendara bisa menjadi arogan?
Mari kita telusuri.

Pertama, kewibawaan hukum tumbang. Ketika bejibunnya aturan yang ada di jalan tidak ditegakkan secara tegas, konsisten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu, kewibawaan hukum perlahan-lahan tergerogoti. Pengguna jalan menjadi acuh tak acuh dengan hukum. Lahirlah istilah-istilah damai di tempat atau kasih uang habis perkara.

Kedua, merasa paling kuat. Kesombongan amat lekat dengan kekuatan yang dimiliki seseorang. Bisa jadi kuat secara ekonomi, sosial, politik, bahkan merasa kuat dari sisi hukum. Inilah contoh abuse the power.

Ketiga, mentalitas jalan pintas. Kesombongan terjadi karena sang pengendara memang punya bakat mencari jalan pintas. Enggan antre, terobos aturan. Mulai dari melibas marka dan rambu hingga melawan arus.

Bahkan,
Keempat, ada kesempatan. Barangkali ini adalah dalih paling konyol. Dengan bakat mentalitas yang cukup kuat, lalu ditambah ‘kesempatan’ terbuka lebar, jadilah praktik tindakan arogan.

Keempat hal di atas berdasarkan amatan dan pengalaman di jalan raya selama ini. Apa yang saya lihat dan rasakan sebagai orang awam, khususnya di jalan-jalan kota Jakarta.

Barangkali ada hal besar lainnya yang memicu arogansi di jalan raya. Barangkali sistem masyarakat dan negara kita yang rapuh. Misalnya, penegakan hukum yang lemah serta sistem sosial dan pendidikan kita yang mengajarkan mentalitas jalan pintas. Enggan kerja keras untuk mencapai keberhasilan, tapi memilih jalan pintas.

Atau, kondisi iklim bumi yang kian panas, apalagi ditambah polusi udara dari knalpot-knalpot kendaraan bermotor membuat suasana membuat pengendara mudah frustasi.

Atau, memang ada grand design yang menginginkan bangsa ini menjadi pemalas, arogan, tidak kreatif, dan melupakan nilai-nilai luhur untuk menghargai sesama manusia. Pada satu titik, tipikal seperti itu dengan mudah membentuk bangsa yang konsumtif. Tidak mandiri.

Dengan populasi sekitar 250 juta pada saat ini, Indonesia menjadi ladang subur bagi para produsen mancanegara. Pelemahan-pelemahan sendi sosial yang berujung menjadi bangsa konsumen tentu saja menguntungkan para produsen. Inilah wujud penjajahan ekonomi yang luar biasa di era modern.

Akh… jadi ngelantur kemana-mana. Pastinya, arogansi di jalan yang berbuah pada pelanggaran aturan dengan ujung kecelakaan lalu lintas jalan menjadi catatan statistik. Di negara kita setiap hari terjadi 300-an kasus kecelakaan lalu lintas jalan. Ironisnya, mayoritas pemicu kecelakaan adalah perilaku berkendara tidak tertib alias ugal-ugalan.

Buahnya? Tiap hari, 70-an jiwa tewas dan ratusan pengguna jalan menderita luka-luka.

Rasanya, sudah saatnya berseru “Setop arogansi di jalan!” Mari mulai memakai akal sehat saat berlalu lintas jalan. (edo rusyanto)

http://rsa.or.id/setop-arogansi-di-jalan/

View on Path

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s