Kecelakaan Maut Pondok Indah dan Kontribusi Mobil

Kita dikejutkan lagi oleh berita soal mobil pribadi yang menabrak dua mobil, sehingga melibatkan tiga mobil, dan mobil menabrak total lima sepeda motor.

Kecelakaan lalu lintas jalan yang terjadi kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan itu menelan empat korban jiwa dan dua korban luka kritis. Tentu saja menimbulkan kerusakan kendaraan yang dahsyat. Duka anak negeri.

Bila merujuk Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), sanksi bagi pelaku seperti kasus Pondok Indah cukup berat. Lihat saja pasal 310 dan 311. Di pasal 310 disebutkan bahwa pengemudi yang lalai dan menimbulkan kecelakaan hingga menyebabkan korban meninggal dunia bakal dibui maksimal enam tahun. Selain itu, kena denda maksimal Rp 12 juta.

Sedangkan dalam pasal 311 dikatakan, jika pengemudi dengan sengaja bakal dipenjara paling lama 12 tahun atau denda paling banyak Rp 24 juta.

Tapi tunggu dulu, di pasal 312 ada sanksi lainnya. Namun, aturan ini lebih kepada pelaku kecelakaan yang masuk kategori kabur. Bagaimana tidak, dalam pasal ini disebutkan pengemudi kecelakaan yang dengan sengaja tidak menghentikan kendaraannya, tidak memberikan pertolongan, atau tidak melaporkan kecelakaan ke Kepolisian bisa dipenjara paling lama tiga tahun atau denda paling banyak Rp 75 juta.

Dalam kasus di Pondok Indah kita dikejutkan bahwa kecelakaan diawali oleh percekcokan antara sang pengemudi dan penumpang. Sang penumpang mengambil alih kemudi lalu menabrak kendaraan lain. Bahkan, setelah menabrak kendaraan yang pertama sang pelaku justeru terus melaju hingga akhirnya menabrak kendaraan lainnya. Sang pelaku, pria muda kelahiran tahun 1992. Entah apa hasil penyelidikan pihak Kepolisian soal pemicu kecelakaan tersebut. Apakah bakal dikategorikan lalai atau sengaja.

“Akan dikenai UU LLAJ pasal 311 ayat lima dan pasal 312,” kata AKBP Hindarsono, kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya saat menjawab pertanyaan saya, Rabu, 21 Januari 2015 siang.

Nah, bisa parah kan tuh. Sudah dikenai tuduhan sengaja yang berbuah penjara maksimal 12 tahun, eh ditambah lagi pasal 312 yang kategorinya melarikan diri dengan sanksi penjara maksimal tiga tahun. Jangan-jangan nanti digabung menjadi 15 tahun. Kita lihat saja nanti.

Oh ya, merujuk pada pemberitaan yang beredar di media massa, bisa jadi, kecelakaan diawali oleh berkendara ugal-ugalan alias tidak tertib. Ini menjadi satu lagi fakta bahwa berkendara tidak tertib memicu kecelakaan. Fakta yang ada di kawasan Polda Metro Jaya pada 2014, perilaku tidak tertib menyumbang hingga sekitar 24%. Faktor ini penyumbang kedua terbesar dengan sekitar empat kasus kecelakaan per hari. Penyumbang nomor wahid masih ditempati berkendara dalam keadaan lengah, yakni sekitar 56%.

Keterlibatan Mobil

Fakta memperlihatkan bahwa dalam lima tahun terakhir keterlibatan mobil di dalam kecelakaan di Jakarta dan sekitarnya terus menanjak. Coba saja tengok data Ditlantas Polda Metro Jaya sepanjang 2010-2014. Tahun 2010, kontribusi mobil dalam kecelakaan lalu lintas jalan sekitar 40%, namun pada 2014 meningkat menjadi sekitar 43%.
Keterlibatan mobil dalam kecelakaan bisa secara aktif atau pasif. Maksudnya, mobil bisa menjadi pemicu kecelakaan atau menjadi obyek kecelakaan. Sebagai contoh, di dalam kasus kecelakaan maut di Pondok Indah, mobil SUV yang dikendarai pelaku menabrak dua mobil dan lima sepeda motor. Bila dijumlah, kendaraan yang terlibat kecelakaan menjadi delapan unit. Tiga mobil dan lima sepeda motor, tapi pelakunya adalah mobil yang menabrak kendaraan lain.

Bila melihat kasus itu sepeda motor menjadi korban, tapi jumlah yang terlibat lebih banyak dari total kendaraan yang terlibat kecelakaan. Artinya, sekali lagi dalam kasus ini sepeda motor menjadi korban dari ulah pengemudi mobil.

Di wilayah Polda Metro Jaya yang mencakup Jakarta, Depok, Tangerang,dan Bekasi (Jadetabek), pada 2014, kontribusi sepeda motor mencapai sekitar 56%. Namun, entah yang menjadi pelaku berapa dan yang menjadi korban berapa persen.
Pastinya, dalam rentang lima tahun terakhir kontribusi mobil terus meningkat. Dari kelompok mobil yang dibagi dalam tiga kelompok, yakni mobil angkutan (umum), mobil angkutan barang (beban) , dan mobil pribadi, penyumbang terbesar adalah mobil pribadi, yakni sekitar 21%. Penyumbang kedua terbesar terhadap total kendaraan yang terlibat dari kelompok mobil adalah mobil angkutan barang (15%) dan mobil angkutan umum (7%).

Dari kelompok mobil pribadi terlihat bahwa jumlah kontribusinya pun terus meninggi sepanjang lima tahun terakhir. Coba saja tengok data berikut ini. Pada 2010, kontribusi mobil pribadi sekitar 17,53%, sedangkan pada 2014 sebanyak 20,58%. Ada apa gerangan?

Jenis apa pun kendaraan yang menjadi kontributor terbesar dalam kecelakaan di jalan, pastinya kecelakaan menyakitkan bagi umat manusia. Para pelaku dan korban sama-sama menderita. Kecelakaan selalu membawa duka. (edo rusyanto)

View on Path

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s