Kopdarling RSA Indonesia Bareng Borobudur Bikers Club

POHON Beringin berdiri kokoh dengan akar-akarnya yang berjuntaian. Angin berhembus membawa udara yang sedikit lembab seusai diguyur hujan. Cahaya temaram listrik membuat suasana di bawah pohon besar itu kian adem.
Ya. Malam itu Jakarta sempat diguyur hujan lebat. Bagi puluhan anggota penunggang sepeda motor, Borobudur Bikers Club (B2C) cuaca seperti itu tak menyurutkan niat untuk berkumpul atau kopi darat alias kopdar. Apalagi, kopdar mereka kali ini agak istimewa dengan kehadiran tim pegiat keselamatan jalan Road Safety Association (RSA) Indonesia.

Setelah mengulik berbagai pengetahuan dan pengalaman berlalu lintas jalan, untuk kopdar bersama RSA Indonesia, B2C mengusung sebuah tema khusus. Kali ini, tema yang diusung adalah ‘Ingat Keluarga Kita. Jangan Ada Lagi yang Menjadi Korban Kecelakaan Lalu Lintas.’

“Kami menyadari bahwa masalah kecelakaan juga bakal merugikan keluarga kita tercinta,” ujarnya.
Kopdar kali ini tak hanya melibatkan B2C dan RSA Indonesia, namun juga hadir sejumlah anggota dari Jakarta Hoteliers Bikers Club (JHBC) dan kelompok pesepeda motor Anak Rantau Club (ARC).

B2C dan JHBC adalah kelompok penunggang kuda besi yang anggotanya adalah kalangan para karyawan hotel. B2C yang beranggotakan seratusan orang didirikan sekitar sepuluh tahun lalu. Mereka berkumpul di depan Hotel Borobudur di Jalan Lapangan Banteng Selatan, Jakarta Pusat. Persis di depan pintu keluar dan masuk sepeda motor ke hotel berbintang lima yang dibangun pada tahun 1963 itu. Para karyawan hotel yang berumur sekitar setengah abad itu memanfaatkan B2C sebagai tali silaturahhim di antara ribuan karyawan yang ada.

Menghadapi Arogansi

Diskusi mengalir seusai paparan mengenai RSA Indonesia oleh bro Dest. Pria muda dari divisi humas dan sekretariat RSA Indonesia itu mengajak para peserta kopi darat keliling (kopdarling) yang hadir untuk sudi berbagi mengenai road safety. RSA Indonesia yang merupakan lembaga swadaya masyarakat (LSM) fokus untuk menyebarluaskan kesadaran berkendara yang aman dan selamat. Tujuannya, kata bro Dest, untuk menciptakan lalu lintas jalan yang kian humanis dan saling menghargai sehingga angka kecelakaan bisa lebih ditekan. Maklum, saat ini, tiap hari tak kurang dari 80-an jiwa tewas sia-sia akibat kecelakaan di jalan raya.

rsa kopdarling b2c spanduk

RSA Indonesia mengumandangkan apa yang disebut dengan Segitiga RSA, yakni sebuah jurus berbasis rules, skill, dan attitude. Ketiganya menjadi satu kesatuan, yakni mentaati aturan yang ada, berketrampilan dalam berkendara secara mumpuni, dan berperilaku yang sudi saling menghargai di jalan raya.

Namun, pembahasan road safety dalam kesempatan kopdarling kali ini juga meluas hingga persoalan dampak kecelakaan yang cukup kompleks. Bagaimana kecelakaan bisa memiskinkan keluarga yang ditinggalkan dan sang pelaku kecelakaan bisa meringkuk di balik jeruji besi. Sudah banyak fakta bahwa seseorang yang memicu kecelakaan dijerat dengan Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan sanksi denda dan pidana kurungan badan.

“Lantas, bagaimana menghadapi perilaku pengendara yang arogan?” Tanya bro Niki dari B2C.

Ya. Arogansi merupakan salah satu perilaku berkendara yang bisa berbuah ugal-ugalan di jalan. Pada gilirannya, perilaku tidak tertib tadi merusak konsentrasi dan tidak jarang berujung pada kecelakaan lalu lintas jalan.
Terkait hal ini, RSA Indonesia mengedepankan apa yang disebut sebagai perilaku berkendara yang humanis.

kopdarling b2c rsa 2014 suasana

Sudi berbagi ruas jalan dan mau saling menghargai. Kata maaf mesti sudi dilontarkan manakala lantaran tindakan berkendara lalu menyinggung perasaan orang lain. Bila persoalan tak selesai dengan kata maaf, mau tidak mau, suka tidak suka, pilihan bisa jatuh pada penyelesaian secara hukum di pengadilan. Namun, tentu sebisa mungkin bertindak tanduk yang tidak menyinggung perasaan sesama pengguna jalan sehingga tak memicu terjadinya gesekan horizontal.

Malam kian larut. Pembahasan seputar road safety juga diisi dengan berbagi pengalaman dalam menghadapi arogansi para pengguna jalan. Menghindari terjadinya gesekan horizontal menjadi salah satu kata kunci dalam meredam mencuatnya potensi petaka di jalan raya. Perbincangan yang sesekali diselingi dengan kudapan dan minuman kopi dan teh manis hangat, disudahi dengan foto bersama. Jarum jam sudah menunjukan hampir pukul 00.00 dinihari saat tim RSA Indonesia berpamitan meninggalkan lokasi kopdarling. 

Sumber: Website RSA Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s