Siaran Pers RSA: Pertemuan Aliansi Global LSM Keselamatan Jalan di Turki

Aliansi Global Keselamatan Jalan Patut Berbuat

JAKARTA, 23 April 2013 – Aliansi global lembaga swadaya masyarakat (LSM) keselamatan jalan punya andil. Patut berbuat untuk mengubah kelamnya lalu lintas jalan. Global Alliance Non Government Organization (NGO) Road Safety mengulik sejauh mana andil publik dalam mereduksi fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan, 4-5 April 2013 di Antalya, Turki.

Road Safety Association Indonesia (RSA Indonesia) hadir sebagai sebagai satu-satunya LSM yang mewakili Indonesia dalam kancah pertemuan LSM dari 80 negara di dunia. Pertemuan di Turki merupakan lanjutan pertemuan para LSM keselamatan jalan di Washington DC, Amerika Serikat, pada 2011. Saat itu, pertemuan difasilitasi Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO).

“Dari pertemuan di Turki memperkuat dasar mengapa RSA Indonesia selalu memperhatikan masalah penegakan hukum terkait keselamatan lalu lintas jalan,” ujar Rio Octaviano, utusan RSA Indonesia dalam pertemuan Aliansi Global, di Jakarta, Selasa (23/4/2013).

Dunia menghadapi masalah serius terkait kecelakaan lalu lintas jalan. WHO menuturkan, setidaknya 1,24 juta jiwa tewas sia-sia akibat kecelakaan. Wilayah dengan pendapatan menengah mempunyai kecenderungan lebih tinggi tingkat kematiannya, yakni mencapai 80%. Sedangkan wilayah berpendapatan rendah hanya 12% dan daerah berpendapatan tinggi hanya 8%. Afrika menjadi bagian tertinggi dalam kematian akibat kecelakaan laluintas, sedangkan Asia Tenggara memiliki tingkat kematian 18,5%. Sebanyak 50% dari korban kecelakaan lalu lintas itu adalah para pejalan kaki, pesepeda, dan pengendara motor. Karena itu, WHO mencanangkan penurunan fatalitas kecelakaan sebesar 50% pada 2020 lewat program Decade of Action. “LSM berperan penting untuk mencapai hal itu,” kata David Ward, general director FIA foundation, saat pembukaan pertemuan di Turki.

Pertemuan Aliansi Global melihat aspek hukum sebagai fitur penting dalam mengurangi fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan. Aturan hukum penting untuk mengatur soal batas kecepatan dan pelarangan mengemudi usai meminum alkohol.

Selain itu, menurut Etienne Krug dari WHO, masalah hukum dan  implementasinya juga penting untuk permasalahan helm, seat belt, dan seatbelt untuk anak. Dia menyebutkan, hanya empat dari 281 negara yang mengatakan bahwa penegakan hukum berjalan cukup baik di negaranya.

Menurut dia, ke depannya lebih baik mencoba saling mengadopsi peraturan untuk kondisi lalu lintas jalan yang lebih baik di masing-masing Negara. Selain itu, meningkatkan sosialisasi untuk meningkatkan kepedulian masyarakat tentang penegakan hukum.  “Tentu, sembari kita turut mendorong perbaikan atas aturan yang ada,” ujar Krug.

Dia optimistis, para LSM bisa melakukan perubahan lewat sosialisasi dan advokasi, termasuk beraliansi dengan pemangku kepentingan. Termasuk dengan kalangan korporasi swasta. RSA Indonesia menempuh hal serupa seperti bersinergi dengan Garda Oto dalam menghadiri pertemuan di Turki. Kesemua itu untuk satu tujuan, demi menyelamatkan nyawa anak negeri.

RSA Indonesia menyodorkan gagasan tentang pentingnya para LSM mendorong terwujudnya komunikasi dua arah dengan para pemangku kepentingan. Negara sebagai penanggung jawab rasa aman di jalan raya, mutlak mewujudkan kewajibannya. Terkait hal itu, Krug menyarankan para LSM berinteraksi dengan kantor perwakilan WHO di negara masing-masing.

Bahkan, bagi Kepolisian Antalya, Turki, masalah keselamatan jalan yang rumit dapat diselesaikan selama ada kerjasama yang baik antara seluruh pihak. “Mirip pernyataan para pemangku kepentingan keselamatan jalan di Indonesia, hanya saja perlu ditingkatkan sinergi di antara mereka agar tidak ada ego sektoral,” kata Ketua Umum RSA Indonesia, Edo Rusyanto, di Jakarta, Selasa.

Program Assistant WHO Turkey mencontohkan keberhasilan dengan otoritas lokal soal kampanye pemakaian sabuk pengaman. Keberhasilan tercapai karena adanya komitmen yang kuat di level pemangku kebijakan Turki.

 Analisis Data

 Pada bagian lain, Associate Director Berman Institute of Bioethics John Hopkins Bloomberg School of Public Health, Adnan A Hyder, menyoroti pentingnya data sebagai basis gerakan LSM. Analisis terhadap data yang ada dapat membantu sejauhmana pencapaian aktifitas dari tiap LSM.

Dia juga menyebutkan, pentingnya data untuk membuat tiap LSM menjadi fokus dalam menjalankan kegiatannya. Dalam pengumpulan data bukan berarti LSM mutlak menjalankan riset dan sebagainya. Namun, LSM dapat menggunakan data yang sudah ada, tentunya darisumber yang kredibel.

Adnan mewanti-wanti soal benturan kepentingan dalam pelaksanaan riset. Dia mencontohkan,kajian mengenai alkohol dan kaitannya dengan kecelakaan lalu lintas jalan. Jika kajian didukung oleh perusahaan minuman keras, kendati kemungkinan data tersebut benar, tapi sangat tidak dianjurkan.

Selain dari pihak kepolisian, data dari rumah sakit juga bisa menjadi alternatif. Para LSM bisa bekerjasama dengan beberapa rumah sakit di negara masing-masing.

Terkait data, Ilyas Daoud, project officer European Transport Safety Council (ETSC), berbagi pengalaman bahwa  pihaknya tiap 3-4 bulan mempublikasi data yang ada. Termasuk, katanya, data tahunan. Ada empat fase yang dijalankan oleh Daoud, yaitu, adopsi strategi, perencanaan,implementasi, dan evaluasi. Di Eropa, pada 2012, tiap hari ada 75 orang tewas dan 250.000 luka-luka akibat kecelakaan lalu lintas jalan.

Di sisi lain, disoroti juga tentang pentingnya peran industri otomotif dalam keselamatan jalan.  David Ward dari Global NCAP (New Car Assesment Program), menyatakan, pihaknya turut membuat standardisasi internasional dalam produksi mobil. Sekalipun Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memiliki standar, NCAP menaikkan standar tersebut. Dia menyayangkan mobil sekarang diproduksi lebih rendah dari standardisasi keselamatan milik PBB. “Harusnya ada yang bisa mencegah hal ini terjadi. Dalam hal ini, bukan hanya industri yang patut dipersalahkan ,” kata dia.

Sementara itu, Director Eastern Alliance for Safe and Sustainable Transport, Emma McLennan, menyayangkan sikap permisif atas korupsi kepolisian sehingga mengabaikannya. Bagi dia,korupsi dalam kepolisian punya pengaruh besar terhadap keselamatan jalan. Karena itu, dia menganalisis institusi kepolisian di daerah mereka. Di lapangan ditemui buruknya manajemen polisi, komunikasi yang tidak baik, rendahnya moral petugas kepolisian, dan kurangnya perangkat yang dimiliki petugas. Lewat langkah yang serius, kondisi itu bisa diubah setelah dilakukan pergantian kepala kepolisian yang dibarengi penataan ulang organisasi. (*)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s