Dengan Lantang Kami Bersuara,”Islam Yes! Liberal No!”

Jumat 28 desember 2012 menjadi hari pencerahan buat beberapa pemudi-pemuda Islam, mengapa? Karena pada hari itu digelar acara yang bertajuk “ISLAM YES! LIBERAL NO!” acara yang digelar di salah satu ruang di Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta  (UNJ) terdiri dari beberapa rangkaian acara yakni: talk show, pembacaan puisi dan rap music performance. Terselenggara atas kerjasama IndonesiaTanpaJIL chapter Jakarta (ITJ Jakarta) dengan UNJ dalam rangka muktamar Forum Studi Islam Al Biruni, sebuah ekskul yang ada di UNJ.

Pada sesi pertama talk show menghadirkan 2 narasumber, kang Hafidz Ary Nurhadi, seorang entrepreneur muda yang juga pegiat #IndonesiaTanpaJIL dan Ustad M Pizaro Novelan Tauhidi seorang cendekiawan muda yang juga seorang jurnalis muslim.

Pemikiran yang dibawa kaum liberal di Indonesia sudah merasuki hampir di semua sendi kehidupan, mulai dari keluarga, pergaulan sekitar, lingkungan pendidikan juga dunia hiburan. Gaya hidup LGBT (Lesbi, Gay, Biseks dan Transgender) menjadi isu yang paling sering diangkat oleh kaum liberal dengan dalih Hak Asasi Manusia.

“Topik Islam Yes, Liberal No akan selalu ada hingga hari kiamat. Kalo di Indonesia pemikiran liberal ini sudah banyak yang menghadang, namun di Saudi Arabia pemikiran ini baru dimulai. Butuh semangat dan tenaga yang luar biasa dalam perjuangan menghadang bahaya liberal” ujar ustad Pizaro.

Selain itu paham Sekulerisme yang mencoba memisahkan agama dengan kehidupan kita juga telah merasuki kehidupan kita. Kalimat seperti, buat apa kita berdoa, dengan berdoa tidak akan merubah sedikitpun nasib kita, sering diucapkan kaum liberal.

D_IMG_5118Pelemahan aqidah umat Islam juga dilakukan oleh kaum Liberal, seperti menyamakan jilbab dengan pakaian renang (swimsuit) yang hanya dipakai situasional saja. Belum lagi mereka juga meragukan finalitas kenabian Muhammad SAW dan menganggap perlu revisi terhadap Al-Qur’an karena mereka anggap telah banyak memakan korban. Na’udzubillah.

Kang Hafidz Ary menyampaikan dengan tegas,”Jangan paksa kami jadi Sekuler, jangan paksa kami jadi Liberal. Kami sudah punya Islam, dan kami bangga akan itu”

“Orang liberal sebenarnya tidak liberal, mereka justru ketakutan dengan ke-liberal-an sendiri, coba saja tanya ke mereka di twitter, Apa Agama Kamu? Pasti langsung di-block,” tukas kang Hafidz Ary.

Pada sesi tanya jawab terlontar beberapa pertanyaan dari peserta yang tidak hanya bertanya tentang bahaya nya JIL namun juga memberikan pendapat bahwa kita harus segera bangkit bersama-sama menghadang bahaya Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme.

D_IMG_5124Pada sesi pembacaan puisi, hadir Bapak Taufik Ismail, seorang sastrawan terkenal yang juga mendukung gerakan #IndonesiaTanpaJIL. Dalam puisi nya Pak Taufik Ismail mengkritisi budaya hedonisme dan materialisme juga merupakan paham yang dibawa kaum Liberal. Dimana ketika semua orang telah menuhankan uang. Segala cara dilakukan demi uang temasuk memperdagangkan aqidah yang sekarang ini tengah dilakukan kaum liberal. Kehadiran Pak Taufik Ismail ini adalah kali kedua di acara #IndonesiaTanpaJIL setelah sebelumnya saat silaturahim pasca Idul Fitri di sekretariat ITJ di Utan Kayu.

“Kalo dulu bangsa Indonesia melawan kolonialisme, imperialisme. Saat ini bangsa Indonesia harus melawan Liberalisme. #IndonesiaTanpaJIL adalah organisasi yang memiliki beban yang sangat berat. Lawan itu liberalisme dan segala pemikirannya. Semoga kalian istiqomah dan selalu dilindungi Allah SWT,”tutup Pak Taufik Ismail.

Berkesempatan juga relawan dari HASI (Hilal Amar Society Indonesia) menyampaikan beberapa hal tentang kondisi terkini di Suriah. Maklum di Suriah sana, umat muslim tengah dibantai oleh rezim yang sedang berkuasa saat ini. “Kebangkitan umat Islam ada di bumi Suriah, bumi Syam. Mari kita bantu saudara kita disana, sama seperti selayaknya kita bantu saudara-saudara kita di Palestina” ujar  salah satu relawan HASI. Seperti yang kita ketahui, #IndonesiaTanpaJIL menggelar kepedulan terhadap saudara-saudara muslim Suriah dengan hashtag #ITJPeduliSuriah yang digaungkan melalui media sosial Twitter.

Sebagai penutup acara, peserta dihibur dengan penampilan Okeng of Yusrain, seorang rapper muslim yang selalu membuka penampilannya dengan shalawat nabi. Okeng membawakan satu lagu rap berjudul “Ngaji Yok”. Peserta terhibur dengan lagu yang dibawakan karena membawa pesan sebagai muslim kita jangan lupakan mengaji A-Qur’an.

Acara selama hampir 4 jam tersebut yang digelar setelah sholat Jumat pun berakhir diiringi dengan sesi foto bersama seluruh peserta dan panitia dengan sambil mengucap takbir dan salam #IndonesiaTanpaJIL. Semoga semangat membebaskan bangsa Indonesia dari bahaya Liberalisme menghujam di masing-masing hati para peserta. Insya Allah. Aaamiin.

B_IMG_5151 C_IMG_5153

Iklan

One thought on “Dengan Lantang Kami Bersuara,”Islam Yes! Liberal No!”

  1. Ping-balik: Dengan Lantang Kami Bersuara,”Islam Yes! Liberal No!” « Jakarta Tanpa JIL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s