Urusi Macet Jakarta Saja, Jangan Urusi Suara Adzan

Kalimat diatas yang sontak saya ucapkan kala mendengar Wakil Presiden RI, Boediono diberitakan meminta agar suara adzan diatur dan ditertibkan kembali untuk kekerasannya. Hal ini diutarakan Boediono pada acara Muktamar VI Dewan Masjid Indonesia (DMI) di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Jumat, 27 April 2012. Menurut Boediono, suara adzan bisa mengganggu jika disuarakan dengan keras-keras, menyentak di telinga dan bisa mengganggu orang lain. Apa?

Bagi saya seorang muslim, Adzan itu bukanlah sekedar panggilan muadzin (sebutah bagi orang melakukan adzan) melainkan panggilan langsung dari Allah SWT kepada hamba-Nya untuk melaksanakan perintah-Nya, Sholat. Sudah sepantasnya jika hamba-Nya mengagungkan panggilan-Nya, apapun medianya, speaker, toa atau hanya dari mulut saja.

Hmmm…jadi panjang lebar gini yah, padahal saya mau nulis peran Wapres sebenarnya yang tidak menampakkan hasil nyata bagi pengguna jalan di Jakarta. Apa tuh? Beliau pernah mengeluarkan 17 instruksi untuk mengurai kemacetan di Jakarta yang belakangan menjadi 20 instruksi sejak Akhir 2010. Lalu apa yang hasilnya?

Seperti kita tahu, pada September 2010, Wapres menginstruksikan “17 Jurus Atasi Kemacetan Jakarta”. Langkah itu dikeluarkan setelah kemacetan lalu lintas jalan di Jakarta membuat pusing kepala para petinggi di negeri ini. Maklum, Jakarta adalah Ibu Kota Negara yang mesti tampil sempurna untuk mendukung roda pemerintahan dan roda ekonomi. Belakangan, 17 jurus tersebut berkembang menjadi 20 jurus.

Adapun tiga jurus tambahan sehingga menjadi 20 jurus adalah terdiri atas pembentukan otoritas transportasi Jabodetabek, revisi Rencana Induk Transportasi Terpadu, dan pendidikan masyarakat tentang kemacetan dan disiplin berlalu-lintas.

Dari ketiga hal tersebut apa yang sudah dirasakan masyarakat Jakarta? Apakah ego sektoral antar stakeholder masih menjadi penyebab? Kalau terkait keselamatan jalan, kita berharap, bahwa segera wujud transportasi yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, dan terjangkau, agar bisa mereduksi potensi kecelakaan. Tentu dibarengi dengan penegakan hukum yang tegas dan konsisten, serta kesadaran para pengguna jalan akan keselamatan bersama.

Memang kemacetan lalu lintas jalan di Jakarta menimbulkan kerugian material secara langsung dan tidak langsung. Besaran kerugiannya mencapai triliunan rupiah. Belum lagi kerugian sosial dan kecelakaan lalu lintas jalan yang merenggut korban jiwa. Selama tahun 2010 jalanan Jakarta merenggut 3 nyawa setiap harinya. Butuh penanganan serius dari para pemegang kebijakan.

Ayo Pak Wapres, kami sudah sangat lama menunggu realisasinya, janganlah mengurusi hal-hal yang tidak memiliki urgensi. Nyawa terus berjatuhan di jalanan.

Iklan

One thought on “Urusi Macet Jakarta Saja, Jangan Urusi Suara Adzan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s