Akhir Minggu Kelabu Di Jakarta

Terkejut, miris, prihatin menyaksikan berita tentang Tragedi Tugu Tani, kecelakaan maut yang merenggut nyawa 9 pejalan kaki dengan tersangka pengendara maut Daihatsu Xenia hitam, Apriani Susanti.

Terkejut karena tragedi menyedihkan ini justru terjadi di tengah-tengah suasana hiruk pikuk dan bahagia warga Jakarta dalam menyambut Tahun Baru Imlek 2365.

Miris karena kecelakaan maut ini menjadikan korban dari pihak pejalan kaki yang justru tengah berjalan di trotoar. Miris karena ternyata sang pengemudi maut belakangan berkendara dengan kecepatan tinggi hampir 100km/jam dan diketahui berkendara dalam kondisi dibawah pengaruh narkoba dan minuman keras. Miris, sebagian besar korban berasal dari satu keluarga (7orang), miris karena mayoritas korban adalah generasi muda, yang seharusnya menjadi generasi usia produktif. Dari berita yang ada rentang usia korban dari usia produktif (16-25 tahun)

Prihatin, karena si pengemudi maut ternyata tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM) sebuah syarat utama bagi setiap pengendara kendaraan bermotor. Prihatin juga karena ternyata Daihatsu Xenia yang dikendarainya pun tidak memiliki surat kendaraan (STNK). Prihatin mengapa pengendara bisa tidak memiliki SIM bebas berkeliaran di jalan raya, dimana penegakan hukum? kemana aparat penegak hukum?

Makin Prihatin karena ternyata jalanan Jakarta masih menjadi ladang pembantaian manusia, dan sekarang malah menjadikan trotoar, yang merupakan hak pejalan kaki menjadi tempat yang tidak aman pula.

Jalanan di Kota Jakarta memang dikenal tidak ramah terhadap pengguna jalan khususnya terhadap pejalan kaki. Ditambah perilaku pengemudi yang sering melabrak aturan lalu lintas, jalanan kota Jakarta sering memakan korban orang-orang yang tidak berdosa. Peristiwa kecelakaan tragis ini menyentak kesadaran semua orang, betapa lalu lintas bisa sangat berbahaya.

Semoga tragedi ini tidak terjadi lagi di kemudian hari, semoga segera enyah pengendara-pengendara maut dari jalanan Jakarta, semoga tragedi ini menjadi momentum (lagi) agar keselamatan jalan adalah tanggung jawab bersama dengan Pemerintah menjadi Panglima nya dan didukung perilaku berkendara yang santun dari tiap pengguna jalan.

Dan yang terpenting, semoga tersangka diganjar hukuman yang setimpal dengan perilakunya yang telah menghilangkan nyawa orang lain. Menurut pengetahuan saya, setidaknya tersangka dapat diancam oleh pasal berlapis dari Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan angkutan jalan, Pasal 283, Pasal 287 ayat 5, Pasal 288 ayat 1 dan 2, Pasal 310 ayat 1, 2, 3 dan 4), Undang Undang Narkoba dan Psikotropika juga KUHP.

Semoga korban tewas, mendapatkan tempat yang layak di-sisi Tuhan Yang Maha Kuasa, semoga korban luka dapat segera pulih.

Sebuah akhir minggu kelabu buat keselamatan dan keamanan jalan Jakarta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s