Safety Tips For Bike Riding At Night

Bike riding can be dangerous, but it is even more so at night.  Fortunately, there are things that you can do to make your ride as safe as possible.  The following are safety tips for bike riding at night.


1. Wear Light clothing

You want people to see you.  The last thing a rider biking at night wants is to blend in with the background so that an oncoming car does not see him or her.  Although black might look “cool,” you are definitely safer going with fluorescent yellow or hot pink while you are biking.  It might not need to be so blatant if you do not own any of those colors, but you should pick relatively light colors or a white outfit.  Another thing you can do is to wear some sort of reflective vest.  Other people might put reflectors on themselves or even lights in order to make themselves more visible to others.

Make sure that your bike has reflectors.  Again, it is all about being visible to a car.  If you want, you could also put some sort of little light on your bike.

3. Wear a helmet

You might be more likely to have a problem when biking at night.  If you are unfortunate enough to get into an accident you are going to want to be as safeguarded as possible.  That means wearing a helmet, which is a good idea no matter when you are bike riding.  A helmet can even save your life by preventing a potentially serious head injury.

4. Be careful where you ride

Obviously, riding in the middle of a dark street where cars race around might not be the best idea.  If you can, stick to bike lanes or bike paths.  The better lit a place is, the better people will be able to see you and the less chance of getting into an accident that you have.

5. Make sure to follow all rules and laws

There are rules and laws that bike riders have just as car drivers have.  Obviously, there are roads where bikers are prohibited from, such as many highways.  You will want to make sure to adhere to that.  Follow all applicable traffic laws.  Try to make sure that your intentions are clear, such as when you are turning in front of someone.  Be careful about assuming that someone sees you or is going to give you the right of way.  Even if they are supposed to, they do not always do so, and you will want to be safe.

Ibu, Ini Harimu

Dalam realita kehidupanmu.. Minimal ada seorang wanita yg sangat PEDULI kamu..  Pasti..!
Terlepas kamu setuju atau Tidak, terima atau tidak, Wanita ini ada..!
Dan ia adalah satu satunya manusia di Planet ini yg izinkan Rahimnya kau tempati free of charge selama 9 bulan.

Yang siap menahan sakit demi untuk kehadiranmu disini sekalipun nyawanya menjadi taruhan. Dalam membesarkanmu ia melewati hari-hari yang tidak gampang.. Sering ia tidak tidur karena kamu sakit.., dalam kebingungan ia hanya menangis dan berdoa karena panasmu yang tidak reda, atau kamu tidak buang kotoran. Ia tidak jijik dengan kotoranmu berselemak dibadannya bahkan ia tertawa lepas saat semua itu terjadi.

Tahun-tahun berganti.
Kini kamu sudah Dewasa. Kamu sudah bisa ke Dokter kalau kamu sakit..
Dan status kamu pun kini sudah berubah..
Kamu Tidak butuh wanita itu lagi.

Sekarang wanita itu sudah tua.. lamban, suka dengan cerita lama yang membosankan, nasehatnyapun selalu itu-itu saja..
Belum lagi bau badannya yang sering diprotes oleh: pacarmu atau suami atau istrimu atau anak-anakmu. Komunikasi kalian Payah.. Susah..!

Hai Saudaraku..
Anda benar.. Wanita tua ini sering membosankan dan tak nyambung.. Tapi coba berdiamlah beberapa menit dalam hening..

Sejelek apapun dia.., orang lain boleh Tidak suka dia. Tapi Kamu Tak Boleh.. Sebab ia adalah IBUmu

Di hari tuanya yang tak lama lagi.., Bukan HARTAmu yang ia harapkan, ia TIDAK butuh apapun dari kamu. Ia hanya Takut.. Kehilangan kamu..  Takut kamu tidak peduli dia lagi.. Karena ia begitu mencintaimu.
Ia sudah Bahagia kalau kamu datang dan bertanya “apa kabar..? Dan tanganmu mau mengelus dia.
Saudaraku  maafkan dia kalau ia pernah melakukan hal yang mengecewakan kamu..  Percayalah ia pantas untuk kau cintai.

Saudaraku..
Waktu wanita tua itu tidak banyak lagi..
Dengarkanlah ini: Jangan Lagi Bersuara Keras Padanya..
Dalam keadaan apapun.. Itu akan sangat melukainya.

I Love You, Mama

Area Henti Khusus Pemotor Di Bandung

Minggu lalu saat berkesempatan jalan-jalan di kota Bandung, ada yang menarik perhatian saya. Apa ya? Adanya Area Henti Khusus bagi pemotor di tiap traffic light jalan-jalan protokol seperti Jln. Sukajadi, Siliwangi, Dago. .Berikut tweet saya di akun @luckysubiakto dengan tagar #jalananbandung

Tiap traffic light yg gue perhatiin ada area henti khusus buat pemotor,di-cat merah, sebelum garis stop dan zebra cross #jalananbandung
Ada juga rambu pemberitahuan, “pemotor harap berhenti di area henti khusus” #jalananbandung
Tapi gak tau deh, apakah area henti khusus tsb dipatuhi pemotor di #jalananbandung ? Ada yg tau ttg hal ini?

berikut fotonya : nampaknya pemotor (masih) belum (bisa) tertib juga ya?

ada juga jalur sepeda,ya utk pesepeda pastinya,setahu sy dulu di-cat biru tp skrg cat udah ilang&jalur dipake parkir mobil #jalananbandung

Tapi ya gitu deh, sudah ada area untuk keamanan agar pemotor tidak melebihi garis stop saat lampu merah menyala, masih saja banyak yang melanggarnya. Oh ya di tweet saya yang terakhir juga mengkritisi jalur sepeda yang tinggal sisa-sisanya saja, cat biru sudah hilang, tepat nya di Jln. Riau (kalo tidak salah) dan juga jalur sepeda di sepanjang Jln. Setiabudi (Dago) kok “memakan” area pejalan kaki alias trotoar?

Realita

Mobil makin banyak, motor makin bejibun, jalanan makin macet.

Bus umum, angkutan umum, angkot, kereta makin tak terurus.

Penumpang bus antri makin lama, penumpang kereta mau naik gerbong mana makin bingung, penumpang angkot makin ketakutan, penumpang taksi makin waspada.

Pemobil makin stress karena macet, pemotor makin depresi terserang panas matahari dan dingin air hujan, belum lagi banjir, pesepeda? makin khawatir diterabas kendaraan lain. Perilaku pengguna jalan pun makin aneh dan menggila.

Kondisi lalu lintas makin amburadul, kondisi jalan makin tidak layak disebut jalan, aturan lalu lintas makin diabaikan, Polisi makin tidak dianggap, makin dihujat sebagai “tukang jebak” di tikungan.

Pemerintah makin tidak peduli. Keselamatan Jalan makin menjadi paradoks, deklarasi keselematan jalan dibungkus dengan memungkiri makna keselamatan itu sendiri, makin menjadi wacana tanpa aksi nyata. Korban kecelakaan lalu lintas pun makin bertambah.

Sementara pemodal makin kaya, meraup kue penjualan otomotif, makin merasa menang, karena jalan raya makin dilebarkan, jalan non tol dan tol makin ditambah. Sisi lain, transportasi publik makin merana, makin dilupakan, makin tidak aman, tidak nyaman, tidak terjangkau.

Itulah realita.

MALU (AKU) JADI ORANG INDONESIA – IV (habis)

IV
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

MALU (AKU) JADI ORANG INDONESIA – III

III
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi
berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
peuyeum dipotong birokrasi
lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas
penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
sandiwara yang opininya bersilang tak habis
dan tak utus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
sekarang saja sementara mereka kalah,
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,
kabarnya dengan sepotong SK
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat
jadi pertunjukan teror penonton antarkota
cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan
yang disetujui bersama,

Di negeriku rupanya sudah diputuskan
kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,
lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan
dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,
Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,
Nipah, Santa Cruz dan Irian,
ada pula pembantahan terang-terangan
yang merupakan dusta terang-terangan
di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.

MALU (AKU) JADI ORANG INDONESIA – II

II
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.