Ibu Pertiwi Menangis…

Semasa kanak-kanak saya sangat hapal lagu tentang Ibu Pertiwi, meskipun saat itu saya tidak tahu persis siapa Ibu Pertiwi tersebut, saya hanya berfikir Ibu Pertiwi itu kira-kira sama dengan ibu kandung saya. Syair lagu itu sangat menyentuh hati dan membawa kesan yang dalam bagi saya, coba kita simak kembali :
“ Kulihat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati, air matanya berlinang emas intan yang kukenang “.
“ Hutan gunung sawah lautan simpanan kekayaan, kini Ibu sedang lara merintih dan berdoa”.
Saat itu saya tak pernah faham makna yang terkandung di dalam syair lagu ini. Kini ketika saya mulai beranjak tua, sepotong syair itu terngiang kembali. Saat dalam kesendirian, tanpa sadar saya sering melantunkan kembali syair lagu ini dengan hati yang perih dan fikiran yang melayang-layang, mengambang menembus langit-langit. Kini saya mulai mencoba mendalami makna syair lagu ini, sungguh suatu kejutan ketika saya mulai bertanya : “ Mengapa Ibu Pertiwi merintih dan menangis, sedangkan Ibu Pertiwi sangat kaya-raya, apakah yang menjadi sebab sehingga Ibu Pertiwi harus meratap sedangkan dia hidup serba berkecukupan ?”.
Saya sebagai salah satu anak Ibu Pertiwi, mencoba mencari jawaban keluar dari kungkungan keterbatasan hidup keseharian yang terasa begitu sempit. Saya mencoba merenungi arti kehidupan. Ketika suara adzan Subuh terdengar lantang, mata dan fikiran saya terbuka lebar, suara Muazzin menyerukan kata-kata : “ Mari kita dirikan Sholat dan mari cita capai kebahagiaan “. Kebahagiaan adalah kata kunci, kebahagiaan adalah langkah pertama bagi upaya saya mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan sekitar Ibu Pertiwi menangis.
Kebahagiaan adalah cita-cita kita semua, harta yang berlimpah dan kehidupan yang serba berkecukupan ternyata bukan syarat utama kebahagiaan. Ibu Pertiwi yang kaya raya merasa hidupnya sangat tidak bahagia karena kehidupan keluarganya penuh dengan perbedaan pendapat diantara anak-anaknya sendiri. Ibu Pertiwi merintih melihat putera-puterinya berdebat saling menyalahkan. Anak yang satu merasa lebih mampu dari yang lain, anak yang lain merasa diperelakukan tidak adil dan sebagainya.
Setiap hari keluarga Ibu Pertiwi selalu diwarnai dengan perdebatan, sehingga hampir seluruh anggota keluarga lupa menyiapkan makanan bagi seluruh anggota keluarga, baik untuk sarapan pagi maupun untuk makan siang dan makan malam. Sedangkan Ibu Pertiwi sudah mulai beranjak tua, dia sudah berkurang kekuatan untuk mengerjakannya sendiri. Ibu Pertiwi hanya bisa menangis dan berdoa agar anak-anaknya kembali rukun dan berjuang bersama meraih kembali kebahagiaan yang sedang beranjak menjauhkan diri.

Written by : Musiardanis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s