Memoles Kegigihan Grup Helm Majelis Rasulullah

HUJAN deras terus mengguyur kawasan Cakung, Jakarta Timur. Satu per satu, anak-anak muda itu berdatangan. Sebagian besar basah terguyur hujan. Maklum, mereka bersepeda motor.
“Sebagian tersendat, terhalang tiba kesini,” papar bro Syamsuri, ketua Gerakan Anak Majelis Rasulullah SAW Sadar Helm & Mematuhi Peraturan Berlalu Lintas, saat berbincang dengan saya, di Cakung, Minggu (29/4/2012) siang. Kami berkumpul di Kampung Jembatan RT 12 RW 12 NO.30, Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur.

Siang itu, kami dari Road Safety Association (RSA) didaulat berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas yang berangotakan 2.000 orang itu. “Kalau jamaah MR jumlahnya sekitar satu juta di kawasan Jabodetabek,” tutur Syamsuri lagi.
Komunitas Gerakan Anak Majelis Rasulullah saw Sadar Helm & Mematuhi Peraturan Berlalu Lintas berisi jamaah MR yang peduli soal ketertiban berkendara. Grup yang juga memanfaatkan jejaring sosial facebook itu, mengajak jamaah tertib saat memarkirkan kendaraan di saat menghadari pertemuan akbar MR. “Relawan kami yang aktif sekitar 30 orang,” tukas Syamsuri.
Bagi kami, kegigihan mereka patut diacungi jempol. Bermodalkan semangat mereka menularkan cara berkendara yang aman dan selamat. Mulai dari memakai helm hingga berupaya mematuhi aturan lalu lintas jalan lainnya. “Saat ini, baru sekitar 60% jamaah yang sudah memakai helm,” kata Syamsuri.

Helm dan Konvoy

Dari RSA hadir bro Rio Octaviano, ketua umum, bro Lucky, kadiv Humas dan bro Edo kadiv Litbang. Kami mengajak Gerakan Anak Majelis Rasulullah saw Sadar Helm & Mematuhi Peraturan Berlalu Lintas untuk lebih semangat lagi. Membakar kegigihan mereka dalam berikhtiar menularkan perilaku berkendara yang santun dan tertib.

Fakta menunjukan kecelakaan lalu lintas jalan mayoritas dipicu perilaku berkendara. Cara berkendara yang ugal-ugalan salah satu pemicu utama. Tahun 2011, sedikitnya 31 ribu jiwa tewas akibat kecelakaan. Kabarnya, jiwa mereka mayoritas terenggut akibat luka di kepala.

“Karena itu, penting perlindungan di kepala dengan memakai helm,” sergah bro Lucky.
Helm yang mumpuni, seperti diatur UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), helm yang lulus SNI. Kita tahu, ada dua jenis helm dalam ketentuan regulasi tersebut. “Helm open face dan helm full face,” papar bro Lucky lagi.

Kesadaran memakai helm saat bersepeda motor bisa lahir karena diri sendiri atau lingkungan. “Dulu saya tak memakai helm sebelum masuk Gerakan Anak Majelis Rasulullah saw Sadar Helm & Mematuhi Peraturan Berlalu Lintas. Kini sudah memakai helm,” kata bro Sidik salah satu anggota Gerakan Anak Majelis Rasulullah saw Sadar Helm & Mematuhi Peraturan Berlalu Lintas.

Dia bercerita tentang pengalamannya. “Saya pernah kecelakaan, jatuh dan terlempar, tubuh luka dan kepala sakit, padahal sudah pakai helm. Bisa dibayangkan jika tidak pakai helm. Orang pakai helm setelah mengalami kecelakaan,” sergahnya.

Cerita lain dikisahkan Syamsuri. Dia mengaku sebelum masuk Grup tak pernah memakai helm saat bersepeda motor. Cukup memakai kopiah. “Tapi, saya iba terharu kegigihan teman-teman Grup mengajak kami memakai helm. Saya akhirnya memakai helm,” tuturnya.

Ya. Regulasi mewajibkan pemotor dan yang dibonceng untuk memakai helm. Alat itu berfungsi mengurangi fatalitas jika terjadi benturan di kepala. “Ada sanksinya, denda maksimal Rp 250 ribu atau penjara satu bulan,” kata bro Lucky.

Di sisi lain, anggota Gerakan Anak Majelis Rasulullah saw Sadar Helm & Mematuhi Peraturan Berlalu Lintas juga menanyakan bagaimana melakukan konvoy yang baik. Soal ini, bro Rio dengan lugas menuturkan bahwa konvoy yang legal adalah yang dikawal petugas kepolisian.

Kesemua itu tujuannya agar lalu lintas jalan menjadi lebih aman dan nyaman. “Keselamatan jalan mesti dilihat dalam satu kesatuan, yakni etika, aturan, dan keterampilan,” jelas bro Rio.

Soal salah atau benar saat berkendara, kata dia, merujuk kepada UU No 22/2009 LLAJ. Pertemuan siang itu pun menyinggung soal penindakan pelanggaran aturan lalu lintas jalan atau tilang. Bro Andri, selaku tuan rumah pertemuan kali ini, bercerita pengalamannya. Dia pernah ditilang karena melintas di jalur yang dilarang. “Saya bayar Rp 30 ribu kepada oknum petugas. Kebanyakan masyarakat kita tidak mau ribet ikut sidang,” katanya. Bro Rio mengajak anggota Grup agar meminta slip merah jika terpaksa ditilang ketimbang memberi sejumlah uang.

Memang gunjingan negatif tentang kelompok ini sangat merebak, tapi siapa yang sangka, ada sel kecil dalam organisasi Majelis Rasulullah yang berjuang memperbaiki, dan berperan aktif dalam keselamatan jalan. RSA sudah 3 kali temu muka dengan Grup Helm ini. Indikasi bahwa kegigihan kelompok ini untuk terus berjuang. Kecil tapi berkualitas.

Perbincangan terus bergulir hingga sekitar pukul 16.00 WIB. Sesaat sebelum pamit, kami diminta berpose bersama.

sumber : http://www.rsa.or.id