Belum Cukup Umur Bermotor, Anak Perwira Polisi, Celaka dan Tewas!

ilustrasi

Membaca berita dari Tribunnews saya terhenyak, adapun beritanya seperti berikut ini :

Anak Perwira Polisi Tewas Usai Tabrakan dengan Taksi

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Wahyu Aji

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Crisna Aditia (15) tewas ketika sepeda motor yang dikendarainya bertabrakan dengan sebuah taksi di Jalan Cideng Barat, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (13/3/2012).

Crisna, putra perwira kepolisian dari anggota Unit Reserse dan Kriminal Polsek Metro Menteng, Jakarta Pusat, ini memacu kencang sepeda motornya yang dikendarai seorang diri hingga bertabrakan dengan sebuah taksi.

“Sepeda motor bebeknya bernopol B 6345 POK milik korban bertabrakan dengan taksi bernomor polisi B 1232 WTC. Korban tewas di lokasi,” ucap Kepala Unit Laka Polres Metro Jakarta Pusat, AKP Antoni kepada wartawan, Selasa (13/3/2012).

Atas peristiwa yang terjadi dini hari tersebut, sopir taksi bernama Sutrisna ditahan.

Begitu juga berita di situs resmi National Traffic Management Center Korlantas Polri :

Taksi Tabrakan Dengan Sepeda Motor, satu Tewas 

[Published: March 13, 2012 20:48]

JAKARTA, – Kecelakaan lalu lintas antara sepeda motor dengan taksi terjadi di Jalan Cideng Barat, Gambir, Jakarta Pusat. Seorang pengendara motor Crisna Aditia (15) yang bertabrakan dengan taksi tewas dalam kecelakaan itu, Selasa (13/3/2012).

Kanit Laka Polres Jakarta Pusat, AKP Antoni mengatakan saat itu sekitar pukul 00.30 WIB, Crisna sedang melaju dengan sepeda motor bernopol B 6345 POK. Ketika berada di Jl Cideng Barat 93 RT 003/ RW 009, sepeda motor yang dikedarai Crisna bertabrakan dengan taksi bernomor polisi B 1232 WTC.

Akibat peristiwa itu putra anggota unit reserse Polsek Menteng itu tewas.  Akibat menabrak Crisna yang merupakan putra perwira unit serse Polsek Menteng tewas, Sutrisna yang merupakan sopir taksi itu ditanan. “Pengemudinya kita tahan,” ucap Antoni.

Apa yang membuat saya terhenyak? Ya sesuai judul tulisan ini, usia si anak yang belum cukup umur untuk bisa berkendara dengan motor di jalan raya. Si anak, Crisna Aditia baru diberitakan masih berusia 15 tahun. Usia yang masih jauh dari syarat minimal untuk memiliki Surat Izin Mengemudi C (SIM C). Padahal Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mengatur pada pasal 81 sebagai berikut :

Pasal 81

(1) Untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77, setiap orang harus memenuhi persyaratan usia, administratif, kesehatan, dan lulus ujian.

(2) Syarat usia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan paling rendah sebagai berikut: a. usia 17 (tujuh belas) tahun untuk Surat Izin Mengemudi A, Surat Izin Mengemudi C, dan Surat Izin Mengemudi D;

Kemudian, apalagi yang membuat saya terhenyak? ya balik lagi ke judul, si anak diberitakan anak dari seorang Perwira Kepolisian! Hmmm….Mengapa hal seperti ini bisa terjadi? Karena si orang tua bukan dari Korps Lalu Lintas jadinya tidak tahu? Rasanya ketentuan usia minimal kepemilikan SIM C sudah menjadi pengetahuan umum bukan? Atau mau bilang, Polisi juga manusia yang punya kekurangan? Rasanya kurang elok jika ada opini seperti itu, bukankah seharusnya si orang tua dapat lebih aware terhadap aturan hukum daripada warga biasa? Kalau sudah begini, lalu kita mau menyalahkan siapa? Sistemnya, manusianya atau lingkungan?

Kalau sudah begini, bisa jadi yang “disalahkan” adalah si pihak penabrak, apalagi kasusnya termasuk kategori Kecelakaan Lalu Lintas berat dimana pengertiannya sesuai Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 Pasal 229 :

Pasal 229

(1) Kecelakaan Lalu Lintas digolongkan atas:
a. Kecelakaan Lalu Lintas ringan;
b. Kecelakaan Lalu Lintas sedang; atau
c. Kecelakaan Lalu Lintas berat.

(2) Kecelakaan Lalu Lintas ringan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan Kendaraan dan/atau barang.

(3) Kecelakaan Lalu Lintas sedang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan kecelakaan yang mengakibatkan luka ringan dan kerusakan Kendaraan dan/atau barang.

(4) Kecelakaan Lalu Lintas berat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakan kecelakaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia atau luka berat.

Tetapi tentunya pihak penyidik kepolisian harus bisa melihat juga kalau si korban berperan dalam terjadinya kecelakaan tersebut, dimana diberitakan juga si anak berkendara dengan kecepatan tinggi. Namun apakah hal ini terakomodir dalam produk hukum yang kita punya sekarang? Lagi-lagi kita ditunjukkan pada sebuah IRONISME KESELAMATAN JALAN di negara yang katanya NEGARA HUKUM. (lucky)