Hampir seminggu berlalu sejak peristiwa kecelakaan maut di halte Tugu Tani, berita di media, tulisan-tulisan di blog, obrolan di warung-warung, status dan kicauan di social media, bahkan infotainment pun yang biasanya hanya memberitakan gossip seputar artis, semua memperbincangkan peristiwa tragis tersebut. Semua bicara tentang keselamatan jalan, semua bicara dimana hak aman dan nyaman khususnya buat pejalan kaki, semua bicara hilangnya rasa aman dan keselamatan di jalan. Berbagai opini, analisa baik dari pengamat yang memang sudah lama jadi pengamat maupun yang pengamat dadakan, baik dari lembaga pelatihan maupun instrukturnya semua kembali ramai-ramai bicara kembai masalah keselamatan di jalan. Ramai-ramai mengkampanyekan bagaimana supaya selamat di jalan.
TAPI SAYANG, semua itu selalu saja dilakukan, selalu saja terjadi setelah terjadinya kecelakaan maut, kecelakaan tragis? Publik pasti masih ingat peristiwa kecelakaan tragis yang dialami artis Saiful Jamil yang merenggut nyawa istrinya, semua pihak ramai-ramai bicara keselamatan di jalan. Semua pihak beramai-ramai menjual opini dan analisa di media-media, dan media-media pun kembali mendapat pemberitaan yang hangat.
TIDAKKAH, kita bisa membicarakan, mengkampanyekan, menggelorakan semangat keselamatan jalan setiap saat. Bisakah kita mengajak orang untuk selalu waspada dan hati-hati di jalan tanpa harus menunggu peristiwa tragis dahulu?
HARUSKAH kita “berterima kasih” kepada Saiful Jamil, “berterima kasih” kepada Afriyani Susanti, karena kecelakaan tragis yang mereka alami menciptakan momentum untuk kembali mengingatkan semua pihak lebih sadar akan pentingnya aman berkendara dan selamat di jalan? (lucky)
Komentar Terbaru