In game theory and economic theory, a zero-sum game is a mathematical representation of a situation in which a participant’s gain (or loss) of utility is exactly balanced by the losses (or gains) of the utility of other participant(s). If the total gains of the participants are added up, and the total losses are subtracted, they will sum to zero. Thus cutting a cake, where taking a larger piece reduces the amount of cake available for others, is a zero-sum game if all participants value each unit of cake equally (see marginal utility). In contrast, non-zero-sum describes a situation in which the interacting parties’ aggregate gains and losses are either less than or more than zero. A zero-sum game is also called a strictly competitive game.
Dalam bahasa simplenya, Zero-Sum Game adalah penggambaran situasi kompetisi. Jadi begini..Sesungguhnya dalam hal transportasi sedang terjadi persaingan antara pemerintah dan swasta. Sudah diketahui melalui pemberitaan salah satu ATPM bahwa mereka sedang mengalami sukses. Tapi dengan menilik teori Zero-Sum Game ini, maka dapat dipastikan bahwa pihak lain sedang mengalami kegagalan.
Kita semua tahu jawabannya, yaitu pengelola transportasi publik di perkotaan yang memang gagal dalam menyediakan fasilitas transportasi yang aman, nyaman, terjangkau finansial dan akses serta tepat waktu. Semua kriteria itu ada pada motor, dan berkat adanya value ini maka pihak ATPM mengalami total victory atas transportasi publik…!!
Nah, fokus ke kota Jakarta mari kita analisa. Apakah yang menyebabkan 400-ribuan konsumen baru lebih memilih membeli motor ketimbang menggunakan sarana transportasi publik…?
- Buruknya kondisi dan layanan transportasi publik..ini gak usah ditanya lagi. Fakta sudah jelas berbicara.
- Adanya penundaan 29 rute Kereta Rel Listrik dengan alasan perbaikan sarana listrik. Tragedi ini seolah kurang diberitakan, padahal dampaknya dahsyat. Dengan berhentinya 29 rute KRL ini, maka bukan tidak mungkin penggunanya memilih membeli motor saja.
- Mudahnya kepemilikan motor. Ya bagaimana gak mudah..hanya dengan 500 ribu s/d 1 juta orang sudah bisa membayar uang muka. Makin moncer tuh penjualan…!!
- Budaya individualism yang semakin ngetrend, mengalahkan budaya komunal (hidup bersama, naik kendaraan umum bersama).
Dengan sebab di atas, jelas sudah bahwa kekalahan transportasi publik semakin terasa. Akibatnya pada bulan Oktober, 400-ribuan orang sukses membanjiri jalanan dengan kendaraan pribadi (motor), sementara transportasi public akan semakin ditinggalkan.
Buntut-buntutnya jalanan semakin padat dan prediksi Pak Bambang Susantono, Wakil Menteri Perhubungan RI semakin mendekati kebenaran bahwa sebelum 2014, Jakarta akan mengalami gridlock, kondisi dimana ketika seseorang masuk ke jalan..sudah pasti akan menemui kemacetan.
Selamat menikmati buah kesuksesan ATPM dan kegagalan pemerintah. Sebuah permodelan dari Zero-Sum Game.
sumber : Benny
Pingback: MAKALAH KERANGKA TEORI ATAU LANDASAN TEORI « Khazanah Intelektual