Saya terkejut membaca berita dibawah, saya berharap kelanjutan proyek Monorel ini dapat berjalan namun apa yang terjadi? Harapan saya mungkin sama dengan harapan jutaan warga Jakarta lainnya.

Tiang Pancang Monorel (Foto : andrewc123)
Selasa, 20/09/2011 00:40 WIB
Foke Pastikan Pembangunan Monorel Dihentikan
Lia Harahap - detikNews
Jakarta - Impian Jakarta untuk mempunyai moda transportasi monorel hanya menjadi kenangan. Sebab, pembangunannya dipastikan akan dihentikan.
“Saya sangat ingin monorel ini supaya ada ketegasannya. Karena itu kami akan melakukan pengakhiran masa perjanjian terhadap konsesi dengan PT Jakarta Monorel,” terang Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, di Gedung Balaikota DKI Jakarta, Jl Medan Merdeka Selatan, Senin (19/9/2011).
Untuk diketahui, rencana pembangunan monorel ini sudah terhenti sejak tahun 2004. Padahal, tiang-tiang pondasi sebagian telah berdiri seperti di Kuningan dan Senayan.
Sebagai gantinya, lanjut Fauzi, pihaknya tengah memikirkan moda alternatif lainnya yang lebih baik dengan biaya pembangunan yang tidak terlalu tinggi. Di samping itu, Pemprov DKI Jakarta berjani tetap akan memanfaatkan keberadaan tiang jalan layang yang semula akan digunakan untuk perlintasan monorel.
“Kita sedang pikirkan moda transportasi apa yang cocok, baik, berdaya tampung lebih banyak dan harga tiketnya dapat terjangkau masyarakat Jakarta,” tambah pria yang kerab disapa Foke.
Dalam waktu dekat, lanjut Foke, Pemprov DKI akan segera mengakhiri masa perjanjian kontrak dan melakukan konsesi dengan PT Jakarta Monorel selaku investor dan pengembang. Format untuk mengakhiri perjanjian saat ini sedang dirundingkan dengan pengacara Pemprov DKI dan Biro Hukum DKI.
“Jika penyusunan format rampung, akan ditindaklanjuti dengan tahapan perjanjian lainnya untuk menyelesaikan perjanjian ini,” tambahnya.
Atas penghentian perjanjian ini, menurut Foke, pihak pengembang meminta penggantian biaya investasi Rp 600 miliar. Namun, permintaan itu ditolak Foke. Menurutnya, Pemprov akan mengganti sesuai rekomendasi dari Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang menyatakan, ganti rugi dapat dibayarkan kepada investor monorel maksimal Rp 204 miliar.
“Dengan adanya penghentian perjanjian ini memang ada permintaan pergantian dana investasi yang diminta perusahaan itu sebesar Rp 600 miliar dan tidak bisa kita penuhi. Maka itu kita berpulang kepada rekomendasi BPKB yang terakhir, saya berpegangan pada rekomendasi BPKP maksimal setinggi-tingginya Rp 204 miliar. Dari segi Pemprov DKI berusaha untuk mengupayakan seefisien mungkin untuk kebutuhan transportasi bagi warga Jakarta,” tandas pria berkumis ini.
Monorel rencananya dibagi menjadi dua jalur, jalur hijau dan jalur biru, dan diperkirakan dapat mengangkut 120 ribu orang per hari. Monorel jalur hijau sepanjang 14,2 kilometer akan melayani Semanggi-Kuningan. Jalur biru sepanjang 12,2 kilometer melayani Kampung Melayu-Casablanca-Tanah Abang-Roxy. (lia/rdf)
—————————————————————————————-
Kamis, 22 September 2011 02:05 WIB
Busway Layang Gantikan Monorel
Metrotvnews.com, Jakarta: Pascapenghentian proyek monorel, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah membuat perencanaan pengalihan fungsi pancang monorel menjadi jalur busway layang.
Pemprov menegaskan moda transportasi Light Rapid Transit (LRT) monorel siap digantikan dengan moda Bus Rapid Transit (BRT) Transjakarta. “Nanti itu akan kita jadikan Bus layang atau apa pun namanya, pokoknya bus. Yang jelas bus ini tidak berbasis rel,” ungkap gubernur Fauzi Bowo di Balai kota, Jakarta, Rabu (21/9).
Foke memaparkan jenis bus layang yang akan menggunakan bekas tiang pancang monorel tersebut akan menerapkan teknologi tinggi o-bhan busway. “Di beberapa negara sebenarnya ada teknologi tinggi yang mencantelkan ban dengan bus di atas jalur layang khusus tersebut,” jelasnya.
Menurut Foke pengalihan fungsi tiang pancang monorel tersebut akan jauh lebih efektif. Pasalnya, jika proyek monorel diteruskan, biaya investasinya terlalu mahal. Tidak hanya itu, ongkos operasional pun tinggi. “Pengoperasian monorel ini lebih banyak biayanya dari 13 koridor busway. Subsidinya saja bisa mencapai Rp400 miliar. Ini tidak seimbang,” ujar Foke.(MI/****)

Tiang Monorel (foto : krishnabalagita)
Komentar dari seorang penggiat keselamatan jalan :
“Hmm harus di elaborasi lebih dalam Nich
Dmana mana basis rel akan lebih murah dari basis bus..
Yg membedakan cuma di investasi awal..
Harusnya DPRD studi banding ke taman mini.. Itu Monorel pertama dan Masuk beyond 2000 loh.
Sebagai teknologi tercanggih saat itu
Tanya pengelolanya biaya jalan berapa ??
Klo mahal mengapa singapura malah akan menambah jalur LRT dibanding MRT
Jalur LRT Malaysia malah jadi jalur favorit wisma karena mengantar dari mulai belanja murah di Sungei wang sampe belanja borjuis di Petronas Tower..
Sampe sampe Garuda Pasang Iklan segerbong di LRT Malaysia..
Hmm jadi kepikiran kembali pas wawancara di pabrik truck bus di karawang dolo..
Bukamn Suudzon tp kok nyambung…”
Komentar lainnya :
“monorel mahal karena kudu di atas dan pake rel… knp pake rel??? supaya lebih aman…
lah ini bus layang… sopir busnya kayak bus TJ yang sekarang bakal jumpalitan itu bus…
bukan melayang lagi tapi terbaaang…
kendaraan umum massal ya mahal supaya safety… bukan murah supaya pada mati…”
Supaya rekan-rekan tahu, bahwa transportasi publik sudah diamanatkan dalam konstitusi, tercakup pada Pasal 5 ayat 3 UU No. 22 Tahun 2009
Bagaimana komentar anda?
-6.151775
106.884444
Komentar Terbaru