Pemiskinan di Jalan
Akhir-akhir ini, di setiap kesempatan saya selalu melihat perdebatan
dari para Calon Presiden dan calon wakil Presiden, mereka saling
berdebat mengenai kemiskinan, ekonomi yang berpihak kepada rakyat.
Tapi rupanya hanya ekonomi yang dikedepankan tanpa melihat efek dari
perkembangan ekonomi itu. Mungkin mereka hanya menerima laporan dari
pejabat-pejabat tinggi terkait, andaikan saja mereka mau berkendara
setiap hari tanpa diiringi raungan sirine kilatan strobo sambil
memecah rakyat pengguna jalan yang sedang terjebak kemacetan, atau,
mengangkat tubuh anak kecil yang mengalami patah di tulang kering,
melihat cucuran darah dari kepala karena benturan keras di jalan raya,
mungkin akan berbeda lagi ceritanya.
Apakah perkembangan ekonomi khususnya di bidang otomotif harus
dibayarkan dengan puluhan nyawa hanya dalam waktu 5 bulan (DKI
Jakarta), apakah mereka tidak melihat ada faktor pemisikinan yang
lebih krusial dalam hal ini?. Apa yang menarik perhatian para capres
atau cawapres itu, juga mungkin para pembuat acara di televisi untuk
mengangkat topik ini? Entahlah…tapi yang pasti, nyawa tetap hilang,
kecelakaan tetap terjadi, otomatis pemiskinan massal kian merajalela.
Kemanakah topik pembahasan ini, dimana kemacetan merugikan negara
sampai 43 Triliyun? Keluarga yang kehilangan penopang ekonomi karena
kecelakaan di jalan? Anak kecil yang harus mencari uang karena cacat
permanen yang di derita akibat kecelakaan lalu lintas?. Sampai kapan
ini akan berlangsung, sampai kapan mereka mengerti bahwa seiring
pesatnya pertumbuhan otomotif (lebih dari 800 sepeda motor per hari di
Jakarta) beriring pula kecelakaan dan kematian di jalan raya?
Atau hanya melihat pemasukan negara yang sampai triliuyunan itu dari
kendaraan bermotor, yang tentunya tidak terlihat hasilnya (pertumbuhan
jalan hanya 5 %).
Tapi yang pasti, saya dan kawan-kawani akan terus berjuang, sampai pemimpin kita terbangun dari mimpinya.